Profile

Profile (10)

Wednesday, 19 April 2017 01:11

Sukses Prestasi Bertambah Rejeki

Written by

EMILIA NOVA (Dok GATRA)

 

Tubuh itu dipenuhi peluh yang mengucur deras akibat terik mentari yang menyengat. Namun hal tersebut tidak mengendurkan semangat Emilia Nova untuk terus melompati gawang demi gawang di lapangan atletik GOR Rawamangun, Jakarta, Senin kemarin. Maklum, latihan kali ini untuk persiapan diri menjelang SEA Games 2017 di Malaysia, Agustus mendatang. “Waktunya tidak lama lagi, jadi harus semakin rajin latihan,” kata Emilia kepada Gatra.

Atlet saptalomba dan lari gawang pelatnas PB PASI ini mengaku  harus melewati tiga sesi latihan dalam sehari. Latihan pagi selama 2-3 jam dan latihan sore dua sesi sekaligus selama empat jam. Wanita kelahiran Jakarta, 20 Agustus 1995 ini pun memasang target emas untuk SEA Games nanti.

Wanita dengan perawakan langsing dan kaki berjenjang, ini pun bermimpi lebih tinggi lagi. Emilia juga ingin menjuarai Olimpiade 2020 di Tokyo. “Saya ingin menjadi juara SEA Games dan Olimpiade,” kata dara ini berharap dengan wajah semringah.

Ia bercerita, menjadi atlet bukanlah cita-citanya sebenarnya semasa kecil. Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Zainur dan Delvia ini justru ingin menjadi polisi. Sosok polisi yang mengenakan seragam, menurutnya, tegap dan berwibawa.

Meski begitu, Emilia sejak kecil juga menyukai olahraga. Ia kerap mengikuti lomba atletik di sekolahnya. Bahkan, sejak kelas 4 SD,  ia telah banyak memenangkan berbagai kejuaraan. Hingga kelas 3 SMP pada 2010, Emilia membuktikan dirinya sebagai yang terbaik se-DKI. Emilia pun mengakui, di balik itu semua, ada sosok Ayahnya, Zainur yang senantiasa menemani Emilia dalam setiap latihan dan pertandingan.

Prestasinya itu yang lantas membawa dirinya masuk radar para pembina atletik di PB PASI. Emil --panggilan akrab Emilia-- kemudian diundang untuk masuk dalam pelatnas PB PASI, dan berlatih di Stadion Madya, Senayan, Jakarta.

Ketua Umum PB PASI, Mohamad Bob Hasan, sendiri yang turun tangan 'melamar' Emil. Pertemuan sempat diadakan antara Bob Hasan dan Zainur dan Emilia. Tak segan-segan, Bob Hasan langsung menawarkan Zainur untuk membantu mengurus Emil hingga bisa menjadi atlet nasional. “Biar anakmu saya yang mengurus,” kata Emilia meniru Bob Hasan ketika itu.

Sejak itu, kehidupan Emil berubah drastis. Ia makin disiplin dalam latihan. PB PASI juga tak lepas tangan terhadap pendidikan Emil. "Selain menyediakan tempat tinggal, uang saku, kebutuhan sehari-hari, bahkan pelatih dan semua kebutuhan Emil, PB PASI sediakan. Dan, seperti buat atlet-atlet pelatnas lainnya, PB PASI juga menyekolahkan dia dari SMP, SMA, hingga perguruan tinggi," ujar ketua Umum PB PASI, Bob Hasan.

Dari situ, Emilia terus berlatih, hingga akhirnya namanya kian bersinar ketika sukses menyabet tiga emas di PON Jawa Barat 2016. Emil berhasil menjadi juara di nomor lari 100 meter gawang, saptalomba, dan estafet 4x100 meter. Menariknya, atlet asal kontingen DKI Jakarta ini mencatatkan diri sebagai pemecah rekor nasional 100 meter gawang, dengan catatan waktu 13.35 detik menggeser rekornas milik seniornya, Dedeh Erawati, 13,36 detik.

Tak hanya itu, Emil juga berhasil memecahkan rekor nasional untuk saptalomba, yang sebelumnya ini dipegang oleh Rumini sejak 1993. Emilia mencatatkan angka 5.382 poin, lebih tinggi ketimbang Rumini yang hanya 5.204 poin.

Atas hasil dari raihan medali emas itu Emil mendapatkan bonus dari Pemprov DKI Jakarta sebesar Rp 800 juta. Meski masih berusia muda, Emilia sudah berpikir akan investasi. Ia termotivasi oleh nasihat Ketua Umum PB PASI, Mohamad Hasan, yang selalu mengingatkan para atlet untuk menabung demi masa depan. Bahkan, PB PASI kerap memberikan bonus kepada atlet berprestasi dalam bentuk tabungan yang hanya bisa dicairkan ketika pensiun sebagai atlet. Kebijakan itu dilatarbelakangi pengalaman melihat sejumlah mantan atlet yang justru hidup susah saat pensiun. “Emilia enggak mau kayak gitu. Apalagi Emil tulang punggung, Emil enggak mau lihat mama dan adik susah,” katanya.

 

==========

 

Nama: Emilia Nova

Asal : DKI Jakarta

Tinggi : 173 cm

Tempat tanggal lahir: Jakarta, 20 Agustus 1995

 

Prestasi :

 

Juara 100 meter gawang di Asian University Games 2014 di Palembang dan Singapura 2016

Juara nomor 100 meter lari gawang U-21 Vietnam 2013

Runner-up Saptalomba Asean University Games 2014

Juara 4 x 100 meter Hong Kong Open 2016

Runner-up 4 x 100 meter Vietnam Open 2016

Runer-up 100 meter lari gawang Singapura Open 2015

Juara 100 meter gawang ANQ Track and Field Championship, Townsville, Australia

 

Peraih emas PON Jawa Barat 2016 untuk kategori saptalomba, gawang 100 m dan estafet 4 x 100 m.

Rekor nasional saptalomba dan gawang 100 m

Rekor PON Gawang 100 m dan saptalomba

 

 

 

Monday, 15 August 2016 06:44

Timotius Kembali ke Habitat Lama

Written by

 

Nama Timotius Sokai Ndiken mungkin terasa asing bagi atlet-atlet atletik masa kini. Tapi, dua puluh tahun lalu,nama  pria kelahiran Merauke, 21 Juli 1965 ini, berkibar baik di pentas atletik nasional maupun regional. Timotius  adalah adalah Juara lempar lembing putra dan dasalomba di era 1980an hingga 90an. Ia bersaing dengan rekan sedaerahnya, Frans Mahuse. “Kalau Frans, nomor satu, saya nomor duanya, kadang sebaliknya,” ujar Timotius.  

Timotius dan Frank Mahuse merupakan karib sekaligus kompetitor di lapangan. Timotius dan Frans juga sering berbagi medali di pentas internasional.   Ikut di 6 ajang SEA GAMES sejak 1985 hingga tahun 1995, ayah empat anak ini mengoleksi   dua medali emas lempar lembing dan dua medali emas nomor dasalomba serta beberapa medali perak dna perunggu. Rekor terjauh lemparannya mencapai 75,36 M atau berbeda beberapa cm dari rekor nasional yang dipegang Frank Mahuse yaitu 75,58 M.

Paska SEA Games  1995, Timotius memutuskan mundur dari Pemusatan latihan nasional (Pelatnas) PB PASI di Jakarta. Alasan cedera dan keluarga menjadi pertimbangan ayah empat anak ini, untuk meninggalkan dunia yang telah melambungkan namanya. Timotius kemudian memilih menjadi guru sekolah di Jayapura. Belakangan,  Ia juga ditunjuk sebagai kepala bidang pemuda di dinas pemuda dan olahraga Merauke.

Kini, Timotius kembali ke habitat Iamanya. Ia diminta pemprov Papua Barat untuk melatih salah satu atlet mudanya, Lukas Mahuse menghadapi Pekan Olahraga Nasional Jawa Barat september 2016 nanti. Ia mengaku berusaha memberikan ilmu yang pernah didapatnya untuk memajukan atlet Papua Barat agar sukses di PON mendatang. "Saat ini, lemparannya (lempar lembing) sudah 66 Meter, tapi masih butuh kerja keras lagi," ujar Timotius (HF)

Sunday, 01 May 2016 12:57

Tresna Puspita dan Pindahan Asrama

Written by

(Dok PB PASI)

Raut wajah Tresna Puspita Gusti Ayu, tak menunjukan kelelahan sama sekali. Senin lalu, atlet Pelatnas PB PASI ini, tetap menjalankan latihan seperti biasanya. "Alhamdulillah, latihan seperti biasa mas, gak berubah," ujar Tresna saat ditemui di Stadion Madya Senayan, Jakarta.

Padahal, dalam beberapa hari ini, pemegang rekornas lempar cakram putri remaja ini dan seluruh atlet pelatnas PB PASI sedang sibuk mengemasi barang-barangnya di stadion madya Senayan Jakarta. Jika tak ada aral melintang akhir pekan depan, Tresna dan teman-temannya sudah harus pindah ke Stadion Rawamangun, Jakarta Timur dan Stadion Pakansari Cibinong, Bogor.

Atlet yang pernah mewakili Indonesia di kejuaraan Dunia Atletik Remaja IAAF, di Donetsk, Ukraina, ini harus 'tergusur' karena stadion Madya Senayan akan segera dipugar. Stadion yang kerap disebut "Home Of Athletics" Indonesia ini, akan direnovasi untuk menyambut pesta olahraga Asia, Asian Games 2018. Stadion madya akan menjadi lapangan latihan bagi para atlet Asia peserta Asian Games. Sementara. Perlombaan akan dilangsungkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Menurut atlet kelahiran Kuningan, jawa Barat 1, Agustus 1996 ini, persiapan untuk pindah tempat pelatihan, sudah dilakukan. Hampir semua barang dan perlengkapan kebutuhan sehari-harinya sudah dibungkus rapi. Hanya, pakaian latihan dan sejumlah beberapa helai pakaian harian yang masih tersisa. "Kapan disuruh pindah, langsung berangkat," tambah pemegang rekornas lempar cakram yunior ini sambil tertawa.

Friday, 06 June 2014 12:16

Ke Jerman demi Negeri Laskar pelangi

Written by

 

Jakarta, 6 Juni 2014.

Kalau di Komisi Pemberantasan Korupsi  punya istilah ‘Jumat Keramat’ untuk para tersangka Koruptor, maka,  bagi  Rosmitha justru sebaliknya , hari Jumat kali ini (6/6)  menjadi hari paling penting bagi dirinya. Pada hari itu, Pelatih muda  asal Bangka Belitung (Babel) ini justru, berangkat menuju Mainz, Jerman. Mantan sprinter putri ini berangkat untuk berlatih menjadi pelatih selama satu (1) tahun.   

Rosmitha atau yang akrab disapa Aci ini dipilih oleh Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) dan menyisihkan puluhan pelatih muda lainnya dari seluruh Indonesia yang mengajukan aplikasi. “Secara pribadi saya bangga karena bisa terpilih dari beberapa orang yang berkeinginan dapat ke Jerman juga,” ujar Aci.

Pendidikan kepelatihan selama satu tahun di Jerman ini memang cukup langka. Tak setiap tahun ada kesempatan untuk berlatih ke Jerman selama satu tahun. “Makanya,  Saya juga dapat dukungan penuh dari Pengprov PASI Babel dan KONI Babel, “ tambah Aci. Ia diharapkan dapat menimba ilmu sebanyak-banyaknya di Jerman dan nantinya bisa diterapkan untuk mengembangkan atletik di Indonesia khususnya di Babel.

Sebelumnya, Aci juga pernah ke Jerman, namun hanya sepuluh hari.   Di Babel, Aci melatih sejumlah atlet daerah seperti Peraih medali perunggu SEA Games nomor 400 meter, Edi Ariansyah dan atlet lempar lembing Sulistyani.

Pelatih muda yang telah ikut penataran level I IAAF ini,  mengaku sangat bangga bila anak latihnya bisa berhasil menjadi juara, baik di tingkat nasional maupun internasional. “Sebagai pelatih, rasa bahagia melihat anak didik juara itu lebih berharga ketimbang apapun,” ujar Aci.

Aci sendiri sebelumnya pernah menjadi atlet nasional. Peraih medali perak di nomor sapta lomba di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2004 Palembang ini bahkan sempat dipanggil untuk masuk Pelatnas SEA Games Thailand, 2007. Namun, ia gagal diberangkatkan. Selepas PON 2008 di Samarinda, Aci memutuskan untuk menjadi pelatih.

Ia juga sempat terjun ke dunia sepakbola. Bahkan, dengan kemampuan sprintnya yang sangat baik, Aci  ditunjuk sebagai striker tim nasional Sepakbola putri saat SEA Games Philipina dan prakualifikasi piala Asia di Vietnam. “tapi, kita susah menangnya, sepakbola wanita dalam negeri selalu dadakan, dan gak punya liga profesionalnya, kalah sama negara tetangga,” ujar Aci.   

Kini, gadis 29 tahun asal Belitung ini memutuskan untuk fokus sebagai pelatih. Ia  pun tak muluk-muluk dalam mematok target sebagai pelatih. Bagi saya, melatih itu tantangan, bagai orang main judi, kalah atau menang. Jadi kalau menang, itu kebanggan. Kalau kalah, buat bahan evaluasi.

Sulung dari tiga bersaudara ini hanya berkeinginan mengembangkan prestasi atletik khususnya prestasi atlet-atlet asal provinsi negeri para laskar pelangi.  “Di Tingkat yunior kita sudah bisa menduduki peringkat empat nasional, tinggal di seniornya,” ujar  Aci. Pada ajang Kejurnas Yunior dan remaja 2014, Mei lalu, tim atletik Babel berhasil menduduki posisi keempat klasemen akhir perolehan medali.  

 

Thursday, 23 January 2014 09:35

Kisah Si Kijang Emas Memburu Anak-anak Sumbawa

Written by

 

Matanya langsung berkaca-kaca saat diminta bercerita tentang anak-anak yang dibinanya. Dengan suara agak terbata-bata, ia bercerita tentang anak-anak Sumbawa yang kini dibinanya menjadi atlet Atletik. “Maaf ya, saya memang suka terharu kalau bicara soal mereka (anak-anak latihnya),” kata Supiati.      

Supiati adalah pendiri klub atletik  Mayung Bulaeng Sumbawa atau yang artinya Kijang Emas Sumbawa. Klub yang baru didirikan pada maret 2013 ini kini menampung 40an atlet muda dari usia sekolah dasar hingga menengah. Bahkan, dua diantaranya tinggal bersamanya.  “Saya ingin mendidik mereka menjadi atlet-atlet nasional bahkan internasional,” tambah Supiati.  

Dulunya,  Ia sendiri  adalah seorang atlet nasional. Ia bergabung di Pelatihan nasional jangka Panjang PB Persatuan Atletik Seluruh Indonesia di stadion madya Senayan Jakarta, sejak masih berusia 15 tahun. Supiati kerap bersaing dengan pemegang rekornas sprint 100 meter putri nasional Irene Joseph. Keduanya sama-sama berlari di nomor 100 meter dan 200 meter.

 Bahkan, keduanya kerap bergabung dalam tim estafet putri nasional saat berlaga di ajang Internasional, seperti SEA Games. Hasil kolaborasi keduanya bersama dua sprinter lainnya yaitu Dedeh Erawati dan  Desy Sumigar diantaranya berupa tiga medali perunggu Sea Games 2001, 2003 dan 2005.    

Supiati meninggalkan pelatnas pada 2007, dan mendarmabaktikan dirinya sebagai Pegawai negeri Sipil  di kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat di Mataram. Namun, gadis kelahiran Mataram 1 Desember 1981 ini, tak pernah melupakan dunia atletik.  Bahkan, di awal 2013, hatinya terusik  untuk terjun langsung membina atletik.    

“Saya lihat, kebanyakan atlet nasional dari NTB berasal dari Sumbawa. Jadi, saya yakin, dengan pembinaan yang baik, akan lahir lebih banyak lagi atlet nasional dari Sumbawa,”  kata Supiati. Sekitar bulan Maret 2013, Supiati kemudian mengajukan perpindahan ke Sumbawa, salah satu  kabupaten di Nusa Tenggara Barat yang terletak  timur Pulau Lombok.

Ia kemudian mendirikan klub atletik yang diberi nama Mayung Bulaeng Sumbawa Atau artinya Kijang Emas Sumbawa. Ia kemudian mulai menjalin kerjasama dengan sejumlah sekolah untuk mencari atlet-atlet berbakat. Ia juga melakukan pendekatan  secara langsung ke pihak dinas pendidikan dan olahraga Sumbawa, pemerintahan daerah hingga pihak swasta untuk mendukung program pembinaanya.  

Hingga kini, sudah bergabung lebih dari 40 anak siswa SD hingga SMA yang dipandang Supiati berbakat untuk dikembangkan sebagai atlet nasional.  Lima diantaranya bahkan dipanggill PB PASI ke Jakarta untuk mengikuti seleksi atlet muda. 

Para Atlet, menurut Supiati, kebanyakan berasal dari keluarga tak mampu.  Sehingga, ketika diminta untuk dilatih Atletik, sebagian besar orang tua, tanpa ragu mengijinkannya, karena dinilai akan berdampak positif, termasuk jika sukses menjadi atlet nasional.   

Mereka, lanjut Supiati,  tak dipungut biaya sepeserpun. Semua berasal dari kantongnya sendiri. Bahkan dua diantaranya tinggal di rumahnya. “Mereka berasal dari latar belakang yang tidak mampu, tapi punya bakat luar biasa,” kata Supiati.  Ia sendiri berencana  menambah jumlah atlet yang ditampungnya di rumahnya dengan mendirikan pemusatan yang representative. “Saya sudah beli tanah, dan akan saya wakafkan untuk membuat pemusatan klub  atletik,” tutur Supiati.

Semua diberikannya secara ikhlas. “Tapi, sebagian biaya operasional, kadang saya dapat dari donatur, termasuk dari bantuan pak Bupati Sumbawa,” ujar Supiati. Ia juga kerap mendatangi pengusaha-pengusaha daerah termasuk perusahaan daerah di Sumbawa untuk mengajukan permohonan sponsor, baik berupa pemberian kaos atau beasiswa.

Totalitas SUpiati di dunia Atletik, diakuinya, telah menghanyutkannya. Bahkan, ia kerap  melupakan kehidapan pribadinya sendiri.  Gadis yang kini berusia 32 tahun ini bahkan  masih belum berumahtangga. “Selama ini Saya konsentrasi untuk menjadi atlet dan mengurus anak-anak (atlet muda atletik) dulu,” ujar Supiati. “Tapi mungkin juga karena belum dapat jodoh juga,” tambah SUpiati,  sambil tertawa. Namun yang pasti, menurut Supiati, ia berharap pasangannya nanti adalah orang yang juga peduli pada atlet-atlet binaanya dan mendukung karirnya sebagai pelatih.

 

 

Sifat cerewet dan kritis rupanya tak melulu bermakna negatif. Hal itu dibuktikan pelatih atletik Henny Maspaitella. Pelatih yang sukses membawa anak asuhannya meraih medali emas di SEA Games XXVI Palembang 2011 lalu itu, merasakan betul manfaat dari kedua sifat tersebut terhadap kemampuan dan pengetahuannya tentang dunia kepelatihan. “Saya kebetulan orangnya, dari dulu emang cerewet dan suka bertanya kalau ada yang mengganjal di hati,” kata Henny.

Henny adalah pelatih atlet Serafi Unani Unalies dan Franklin Burumi. Mantan sprinter wanita indonesia ini sukses mengasah 'permata-permata' dari Papua hingga menjadi atlet berprestasi seperti saat ini. Dari sumbangsih tenaga keduanya Indonesia mendapat empat medali emas SEA Games 2011 lalu. Menurut Henny, kemampuannya melatih atlet tak bisa dilepaskan dari pengalamanya sebagai atlet di era 1980an. Henny yang pernah memegang rekor nasional 100 meter putri ini, pernah dikirim berlatih ke luar negeri, baik sebagai atlet maupun sebagai pelatih. 

Ia diberangkatkan PB Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI)  untuk berlatih ke Universitas Houston Amerika Serikat. Selama empat bulan, ia dilatih pelatih kenamaan Tom Tellez. Pelatih atletik di universitas Houston itu dikenal sebagai pelatih bertangan dingin. Sejumlah sprinter negeri Paman Sam  lahir berkat sentuhannya. Sebut saja, mantan pemecah rekor dunia 100 meter, Carl lewis.  

Sepanjang karirnya, Carl lewis juga berhasil mengoleksi  9 medali emas olimpiade dan 8 medali emas kejuaraan dunia atletik. Bahkan atas prestasinya itu, Carl Lewis yang belakangan kemudian terjun ke layar perak sebagai aktor, diberi penghargaan sebagai  “Olahragawan abad ini” oleh komite olimpiade internasional (IOC).  Selain Carl Lewis, anak didik Tom Tellez lainnya diantaranya, peraih medali emas 200 meter Olimpiade 1988 Joe DeLoach dan pemegang rekor dunia Leroy Burrell. Henny sendiri sempat berlatih bersama Carl Lewis.

 “Metode yang diajarkannya lebih banyak menyangkut bagaimana meningkatkan power saat berlari,” kata Henny.  Selama dilatih Tom Tellez, Henny mengakui kalau dirinyalah satu-satunya atlet yang paling sering ‘cerewet’ untuk bertanya. “Ada yang aneh sedikit, saya pasti bertanya,” kata Henny, tertawa.   

Namun, ‘kecerewetannya’ itu tak sia-sia. Dengan segudang pengalaman dna pengetahuan yang didapatnya tersebut, sekembali ke tanah air, Henny mampu  memecahkan rekor nasional 100 meter yang sebelumnya dipegang sprinter Carolina Riewpassa. Henny mencatat waktu 11,62 detik atau lebih baik dari catatan Carolina yaitu 11,70 detik.

Dari pengalamanya berlatih di Amerika Serikat itu, Henny kemudian menggabungkannya dengan pengalamanya saat berlatih di Malente, Jerman. Dalam program pelatihan rutin setiap tahun bagi pelatih-pelatih atletik Indonesia itu, porsi latihan yang diajarkan lebih banyak menyangkut teknik berlari. Dari mulai latihan ketahanan tubuh hingga latihan teknik saat berlari. 

Dari dua pengalaman berlatih itulah kemudian Henny menjadikannya sebagai metode latihan untuk anak-anak didiknya. Selain meningkatkan power atau tenaga dari para atlet, ia juga memberikan latihan teknik berlari efektif. “Jadi, saya combine, kedua metode latihan tersebut buat ‘anak-anak’ saya,” kata Henny.

Hasilnya,  selain Franklin Burumi dan Serafi Unani, sejumlah atlet muda nasional lainnya kini siap menghasilkan prestasi terbaiknya, “Saya masih punya Tri Setyo Utami, yang siap untuk menjadi pendamping Serafi.”   

Wednesday, 23 January 2013 10:12

Fernando Lumain

Written by

Atlet asal Sulawesi Utara ini salah satu atlet yang disiapkan untuk menggantikan mantan sprinter nasional Suryo Agung. posturnya yang tinggi 183 cm dan usianya yang terbilang masih muda yaitu 21 tahun, diharapkan berprestasi. Mahasiswa Universitas Moestopo ini  adalah anak pertama dari tiga bersaudara ini.  Dia menjadi satu-satunya atlet nasional yang lolos untuk berlaga di olimpiade London 2012. meski tersingkir di babak pertama. Fernando berhasil mengukir waktu terbaik 10,80 detik untuk 100 meter.  Di Jatim Open 2011, Nando berhasil meraih gelar juara. Catatan waktunya, 10,64 detik. Seperti kebanyakan sprinter dalam negeri lainnya, Nando bertekad menjadi manusia tercepat di Indonesia.

Wednesday, 23 January 2013 10:08

Agustin Bawele

Written by

Sprinter muda Agustin Bawale adalah salah stau andalan Indonesia saat ini. Pelari Muda asal Sulawesi Utara menjadi pelapis utama di nomor lari gawang putri. Pada SEA Games Laos, Agustin yang tidak ditargetkan meraih medali itu, justru  berhasil menggondol medali perunggu. Sementara di dalam  Kejuaraan Atletik Junior se-Asia Tenggara di Vietnam, gadis 19 tahun asal Tahuna, Sulawesi Utara, itu menjadi penyumbang satu dari dua medali emas yang diraih kontingen Indonesia. Agustin juga tercatat sebagai peraih medali emas nomor 100 gawang di pesta olahraga Asean di Thailand pada 2009.

Wednesday, 23 January 2013 10:07

Tresna Puspita

Written by

Remaja putri berusia 15 tahun ini relatif bertubuh bongsor. gadis cantik asal Kuningan, Jawa Barat, itu  adalah atlet penghuni pemusatan latihan atletik nasional (pelatnas) jangka panjang di Stadion Madya. Kemampuannya di nomor tolak peluru membawanya menjadi salah satu atlet yang beruntung "mencicipi" pelatnas yang dijalankan PASI. Ia pun merasakan banyak perubahan sejak bergabung di pelatnas.

Wednesday, 23 January 2013 10:05

Triyaningsih

Written by

Ketika memulai karier sebagai atlet, delapan tahun lalu, Trianingsih tak punya mimpi muluk. Pelari mungil dengan tinggi 153 sentimeter asal Semarang ini hanya ingin bisa membiayai sekolah seorang diri. Anak ketiga dari empat bersaudara berusia 22 tahun ini berhasil memecahkan rekor nasional lari 10.000 m dengan catatan waktu 32 menit 49,47 detik. Catatan waktu tersebut melebihi catatan rekor lama yang dibuat atas nama atlet Indonesia, Supriati Sutono. Ia meraih medali emas SEA Games nomor 5000, dan 10000 m. "Saya sangat senang sekali karena berhasil memecahkan rekor SEA Games. Saya mengucapkan puji syukur kepada Allah atas sukses ini," kata Triyaningsih.

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…