Sunday, 01 May 2016 10:50

Rekornas Saja Belum Cukup

Tim estafet Putra saat di Singapore Open (PBPASI/Eni Sumartoyo)

Kebahagiaan menyelimuti seluruh anggota tim atletik Indonesia di Singapore Sport Hub Stadium, Singapura, akhir pekan lalu. Tim yang dimanajeri Pelatih Kikin Ruhuddin ini berhasil mempertahankan dominasi Atletik Indonesia di kejuaraan Atletik Singapura Open 2016. “Alhamdulillah, anak-anak (Atlet) bisa dapat sembilan medali emas dan 3 pemecahan rekornas,” ujar Kikin.

Turun dengan kekuatan penuh, Indonesia yang diwakili sejumlah atlet senior termasuk peraih medali emas Asian Games Maria Nathalia Londa, sukses mendulang 9 medali emas, 4 perak dan 2 perunggu. Catatan hasil ini, nyaris sama dengan hasil yang dicapai pada Singapore Open 2015 yang lalu.

 

Menurut Sekjen PB PASI Tigor Tanjung, sejak awal PB PASI tidak membebani para atlet dengan target juara. Setiap tahun, PASI menjadikan ajang Singapore open sebagai ajang uji coba dan evaluasi bagi sejumlah atlet menjelang ajang multi event seperti Olimpiade 2016, Sea Games 2017 dan Asian Games 2018. 

Pria yang sudah aktif membina atletik sejak lebih dari 30 tahun lalu ini, mengambil contoh atlet lompat jauh putri Maria Londa. Menurut  Tigor Tanjung, Singapore open dijadikan sarana uji coba lagi bagi Maria Londa setelah menjalani pemulihan kesehatan akibat cedera di ajang SEA Games 2015 lalu. Londa sempat tertahan untuk kembali ke Jakarta, seusai Sea Games Singapore pada Juni 2015 lalu karena harus mendapat perawatan oleh dokter di Singapura. 

Maka, Tigor pun memaklumi atas hasil yang diraih Maria Londa kali ini  di Singapore open 2016. Atlet yang telah dipastikan meraih tiket ke olimpiade Rio de Janeiro Brasil 2016 ini hanya meraih perunggu dengan lompatan sejauh 6,34 meter atau jauh dari performance terbaiknya yaitu 6,7 meter.  ”Kami dapat memakluminya (hasil lompatan Maria) mengingat dia belum 100 persen pulih dari cederanya,” tegas Tigor Tanjung.

Namun PB PASI tetap mengapresiasi atas hasil yang diraih para atlet di Singapore Open. Apalagi, ada 3 pemecahan rekornas yang berhasil dibuat di ajang tahunan Singapura tersebut. Pemecahan rekornas pertama terjadi di nomor lompat tinggi putri yaitu Nadia Anggraini yang mampu memecahkan rekornas dengan lompatan setinggi 1,79 meter atau lebih baik dari rekornas sebelumnya milik Nini Patriona dan Rumini setinggi 1,77 meter yang dibuat  27 tahun lalu.

Selain itu,pemecahan Rekornas juga terjadi di nomor lompat galah putri yunior oleh Jelita Nara Idea yang mampu melompat setinggi 3,75 meter atau lebih tinggi 0,05 M dari rekornas sebelumnya atas namanya sendiri.  Pemecahan Rekornas terakhir diberikan oleh para sprinter  putra Indonesia yang tergabung dalam tim estafet putra 4 x 100 M. Tim yang beranggotakan Iswandi, Yaspi Boby, Fadlin dan  Yudi Dwi Nugroho memperbaiki rekornas sebelumnya dari 39.32 detik menjadi 39.28 detik. Para atlet yang dilatih pelatih Eni Sumartoyo ini juga berhasil mempertahankan medali emas Singapore open.  “Meski terjadi pemecahan rekornas, tapi itu belum cukup untuk bisa meraih tiket ke Olimpiade Rio De Janeiro,” ujar ketua Umum PB PASI Bob Hasan.

Menurut Bob Hasan, tiket ke olimpiade sangat berat. Dari 16 negara yang akan berlaga di Brasil, 8 tiket sudah ditentukan saat kejuaraan dunia estafet Bahama 2015 lalu. Sementara 8 tiket lainnya harus diperebutkan oleh lebih dari 200 negara lainnya. “Gak seperti bulutangkis yang hanya 50an negara, atletik harus bersaing dengan lebih dari 200 negara, jadi tidak mudah,” ujar Bob Hasan.

Tigor Tanjung mengamini apa yang disampaikan Bob Hasan. Menurutnya, peluang untuk lolos ke olimpiade bagi tim estafet putra 4 x 100 m, sangat kecil. Limit olimpiade yaitu 38,50 detik, sementara tim estafet Indonesia baru 39,28 detik. “Tapi, kita akan terus berusaha menggenjot mereka untuk bis alebih baik,” ujar Tigor Tanjung.

Sementara di nomor-nomor lain, PB PASI juga terus melakukan uji coba untuk menghadapi SEA Games dan Asian Games mendatang. Atlet Rini Budiarti yang merupakan peraih medali emas SEA Games 2015 ini coba diturunkan di nomor 5000 M, yang bukan nomor spesialisasinya yaitu 2000m Steeplechase. Hasilnya, Rini ternyata mampu berprestasi di nomor tersebut. Ia mampu meraih  medali emas nomor 5000M putri. “Persaingan di 2000 m Steeplechase sudah makin ketat, makanya kita geser ke 5000m,” tambah Tigor Tanjung.

Menurut Tigor Tanjung, keberhasilan sejumlah atlet memecahkan rekornas, memunculkan harapan bahwa tim atletik bisa membawa Indonesia ke masa-masa kejayaan atletik seperti di era-era sebelumnya. “Kalau bisa, Indonesia diwakili seperti masa Frans Mahuse dan Freddy Mahuse,” ujar Tigor Tanjung. (HUmas PBPASI)

 

 

Last modified on Thursday, 08 December 2016 05:30
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…