Wednesday, 20 July 2016 10:53

Relasi Panjang Atletik Indonesia Jerman Featured


Ketua Bid Luar Negeri PB PASI Letjen (purn) Sjafrie Sjamsoeddin, ditemani Sekjen PB PASI Tigor Tanjung Bertemu Dubes Jerman untuk Indonesia Georg Witschel

Bangku di stadion atletik di kota Kassel, Jerman, hampir penuh terisi penonton. Hanya bangku di beberapa sudut yang kosong. Itupun bisa dihitung dengan jari. "Mereka (warga Jerman) sangat antusias menyaksikan kejuaraan atletik," ujar Mohamad "Bob" Hasan, ketua Umum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI), yang menyaksikan langsung Kejuaraan Nasional Atletik Jerman, Ahad lalu.


Kejuaraan itu berlangsung dua hari. Selama itu pula stadion berkapasitas 20.000 penonton yang terletak 200 kilometer di utara Frankfurt itu tak pernah sepi dari penonton. Padahal, untuk menyaksikannya mereka harus membayar tiket 15 euro atau sekitar Rp 225.000.

Menurut Sekjen PB PASI Tigor M. Tanjung, dari setiap penyelenggaraan kejurnas, Federasi Atletik Jerman (DLV) meraup pendapatan bersih lebih dari 250.000 euro atau lebih dari Rp 3,6 milyar. Selain dari tiket, pendapatan itu didapat dari application fee dari setiap kota yang menjadi tuan rumah dan hak siar televisi serta iklan atau sponsor yang mengikat kontrak dengan DLV.

Menurut Tigor, yang mendampingi Bob Hasan di Jerman, pengelolaan kejurnas secara profesional di negara itu menjadi salah satu "oleh-oleh" dari kunjungannya tersebut. Selain Tigor, ikut serta dalam kunjungan tersebut, Ketua PB PASI Bidang Luar Negeri Letjen (Purnirawan) Sjafrie Sjamsoeddin.

"Oleh-oleh" lainnya yang dibawa PB PASI dalam kunjungan ke Jerman, menurut Tigor Tanjung, adalah kelanjutan kerja sama PB PASI dengan DLV dalam pelatihan bagi pelatih dan atlet Indonesia. Komitmen tersebut dicapai dalam pertemuan antara PB PASI dan Presiden DLV, Clemens Porokop, dan Sekjen DLV, Frank Hensel. Hadir pula ketua Asosiasi Atletik Schleswig Hosltein (SHLV), Wolfgang Delfs, dan Sekjennya, Bodo Schmidt. Schleswig Hosltein merupakan wilayah Jerman, yang salah satu kotanya yaitu Malente, menjadi pusat pelatihan atlet nasional Jerman.

Di pentas atletik dunia, Jerman adalah salah satu negara yang sangat disegani. Negara Eropa Tengah yang berpenduduk 82 juta orang ini dikenal sebagai pencetak juara-juara dunia atletik. Sebut saja, Betty Heidler dan Astrid Kumbernuss. Betty adalah juara dunia sekaligus pemegang rekor dunia lontar martil putri. Sedangkan, Astrid Kumbernuss merupakan juara dunia tolak peluru sekaligus juara olimpiade 1996. "Prestasi atlet-atlet Jerman sudah mendunia, dan mereka sangat ditunjang oleh kemajuan dalam bidang sport science-nya, sehingga kita perlu mempertahankan dan meningkatkan kerja sama," ujar Bob Hasan.

Kerja sama PB PASI dengan DLV yang sudah berjalan sejak 1970an ini juga mendapat dukungan dari pemerintah Jerman. Dalam pertemuan dengan pengurus PB PASI beberapa waktu lalu, Duta Besar Jerman untuk Indonesia Dr. Georg Witschel menyatakan kesiapan Jerman untuk selalu mendukung program pembinaan atletik Indonesia.

Berbagai program yang telah dilaksanakan selama ini, seperti pengiriman pelatih atletik Indonesia untuk belajar ilmu kepelatihan di Universitas Johannes Gutenberg, Mainz, Jerman. Lalu, pengiriman pelatih ke pemusatan latihan pelatih Jerman di Malente, Schleswig Hosltein. Pengiriman atlet untuk berlatih secara gratis ke Kiel, Malente, dan Darstadt, akan dilanjutkan.

Para atlet dan pelatih yang dikirim ke Jerman, kata Tigor Tanjung, berlatih di bawah bimbingan para pelatih nasional Jerman yang telah mencetak banyak juara dunia atletik. "Kita berharap, atlet-atlet Indonesia memiliki pengalaman memadai dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya di Jerman," ujar Tigor.

Jika dirasa kurang, menurut Tigor, PB PASI tak segan-segan mendatangkan para pelatih nasional Jerman ke Indonesia dan menggelar coaching clinic. Akhir tahun lalu, misalnya. Di bawah program yang sama, PB PASI mendatangkan pelatih Jerman Michael Deyhle dan Dieter Kollark. Keduanya merupakan pelatih nasional Jerman bertangan dingin yang menghasilkan juara-juara dunia.

Selain mereka, untuk menjangkau daerah daerah, PB PASI juga mendatangkan empat pelatih Jerman yang diharapkan dapat melatih para pelatih muda di daerah. Tak tanggung-tanggung, PB PASI menghadirkan empat tenaga ahli Jerman untuk melatih anak-anak atau kids athletics selama dua minggu. Mereka adalah pelatih dan mantan atlet Jerman Jan Dreier beserta istrinya Christine Dreier, Nele Saar dan Markus. Keempatnya melatih di Solo dan Makassar.

Rencananya, lanjut Tigor Tanjung, PB PASI akan terus mendatangkan pelatih dari Jerman untuk menghasilkan para atlet terbaik, guna persiapan menjelang SEA Games 2017 di Kuala Lumpur dan Asian Games 2018 di Jakarta. "Selama memungkinkan, kita akan terus bekerja sama dengan Atletik Jerman," katanya.

Hendri Firzani

Last modified on Thursday, 08 December 2016 05:23
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…