Dedeh Erawati menjuarai nomor 100 M Gawang putri (PB PASI/Eva Agriana)

 

Hingga menjelang penutupan penyelenggaraan kejurnas Atletik Yunior dan Senior 2015 kualifikasi PON XIX Jawa Barat, baru terjadi satu pemecahan rekornas oleh atlet lontar martil putra asal Riau Denny Putra. Atlet kelahiran 24 Mei 1998 ini memecahkan rekornas yunior atas nama Frans de Boer yang dibuat pada 2013 lalu. Denny berhasil melakukan lontaran sejauh 55.14 meter atau lebih baik 0,72 m dari rekor lama sejauh 54.42m . “Senang sekali bisa memecahkan rekornas,” ujar Denny.

 

Ia mengaku lontaran ini juga mengejutkannya karena selama latihan, ia tak pernah mencatatkan lemparan sejauh itu. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Ganda Sianturi dan Lisbeth Situmorang ini berhasil mengalahkan atlet DKI Jaya Ahmad Erbakan dan atlet Jawa Barat Vincent yang masing masing menduduki posisi kedua dan ketiga.     

Jakarta, 1 September 2015

Pejalan cepat nasional asal Jawa Barat Hendro 'Endro Kim Lung' belum tertandingi di nomor jalan cepat putra. Juara SEA Games 2015 ini, berhasil meraih medali emas di nomor 20 Km jalan Cepat putra pada kejuaraan Nasional Atletik Yunior Senior 2015. "Saya sebenarnya mengejar perbaikan waktu, tapi belum berhasil," kata Hendro, seusai lomba. Hendro menyentuh garis finish dengan catatan waktu 1;33,54 detik atau masih jauh dari rekor nasional yang dipegangnya yaitu 1; 27.00 detik. Posisi kedua dan ketiga ditempati pejalan cepat asal Riau, Hakmal Lisauda dan Kristian L Tobing. keduanya mencatat waktu maisng-masing 1;36.02 detik dan 1;36,26 detik. Sayang waktu keduanya belum berhasil melampaui limit PON yaitu 1;35.00. Hanya Hendro yang berhasil melampaui limit PON.

Dominasi Hendro sendiri berlangsung sejak start dibunyikan. Ia langsung melesat meninggalkan rombongan pejalan cepat yang terdiri dari 17 atlet. "sebenarnya, saya masih bisa lebih cepat lagi, tapi sempat neyeri di kaki , jadi saya tidak mau memaksakan diri," tambah Hendro. Dengan capaian Hendro ini, tim Jawa Barat saat ini telah mengoleksi 1 medali emas di seri Kejurnas yang diikuti lebih dari 740 atlet dari 34 propinsi tersebut. Medali emas noimor jalan cepat 20 km putri sendiri diraih atlet asal Jawa Timur, Inayati yang berhasil masuk finish dengan catatan waktu 1;52,08 detik. Mantan atlet pelatnas PB PASI ini, unggul atas atlet Jawa Tengah Risa Wijayanti yang berada di posisi kedua dan atlet Kalimantan Barat Sri Juliani yang berada di posisi ketiga. Namun, ketiganya berhasil lolos limit PON yaitu 2;00,00 detik. "ALhamdulillah, bisa juara, padahal persiapannya sangat mepet, satu minggu sebelum ke Jakarta baru latihan, sebelumnya saya tak bis alatihan karena karena sempat cedera," ujar Inayati.

 

HF

 

 

 

M Hafiz saat berlaga di Kejurnas 2014 (Dok PB PASI)

 

 

Jakarta, 28 Agustus 2015,

Antusiasme daerah untuk mengikuti Kejuaraan Nasional Atletik Yunior dan Senior 2015 (Kejurnas 2015)  mencapai puncaknya tahun ini. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, pada kejurnas kali ini, seluruh provinsi mengirim utusannya untuk berlomba. Tercatat, setidaknya ada 742 atlet yang terdiri dari  492 atlet putra dan 250 atlet putri telah terdaftar di panitia Pelaksana Kejurnas PB PASI.  

 

Bahkan, provinsi paling muda yaitu Kalimantan Utara ikut mengirimkan kontingen atletnya. “Bisa jadi karena Kejurnas kali ini menjadi ajang kualifikasi terakhir cabang atletik untuk keseluruhan atlet agar bisa ikut ambil bagian di Pekan Olahraga Nasional XVIII Jawa Barat tahun 2016 mendatang,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Kejurnas Drs Dwi Prijono, M,Pd.

Jikapun masih ada peluang kualifikasi, lanjut Dwi Prijono, yaitu di Pekan Olahraga Mahasiswa nasional tapi sebatas hanya untuk mereka yang berstatus mahasiswa.  Dari jumlah 742 atlet yang telah menyatakan keikutsertaanya di Kejurnas kali ini, kontingen terbesar datang dari propinsi Jawa Barat dengan atlet berjumlah 62 orang. Diikuti kontingen Jawa Tengah dengan 55 Atlet dan tuan rumah DKI Jakarta yang mengirim 54 Atlet terbaiknya. Kontingen terkecil datang dari Kepulauan Riau, yang hanya mengirim 1 atletnya. Beberapa atlet nasional dan mantan atlet nasional sepert Dedeh Erawati, Triyaningsih dan mantan sprinter nasional Suryo Agung Wibowo,  akan ikut berlaga di Kejurnas 2015.  


Kejurnas kali ini akan berlangsung selama lima hari yaitu dari tanggal 1 September 2015 hingga 5 September 2015. Tak jauh beda dengan Kejurnas remaja dan Pra remaja April 2015 lalu, pada Kejurnas yang mendapat dukungan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga ini, Panpel Kejurnas juga memilih untuk menggelar lomba  di Stadion Atletik Rawamangun, Jakarta Timur.

Namun, khusus nomor jalan cepat 20 km, Menurut Dwi Prijono, Panpel memilih untuk menggelarnya  di Pintu VII Gelora Bung Karno atau persis di sebelah Stadion Madya Senayan, Jakarta.

 

Menurut Sekjen PB PASI Tigor Tanjung, kejurnas kali ini selain menjadi ajang kualifikasi PON Jawa Barat 2016, juga akan dijadikan ajang pencarian bibit bibit muda atletik Nasional. Para talent Scouting dari PB PASI akan memantau setiap atlet yang berpotensi untuk dikembangkan dan memungkinkan untuk dimasukan dalam Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) jangka Panjang yang digelar PB PASI. “Mereka yang dipilih oleh para talent scouting, akan kita tes lagi, sebelum kita masukan ke Pelatnas PB PASI,” ujar Tigor Tanjung.

 

  HF 

 

Sekjen PB PASI Tigor Tanjung (Kanan) Berfoto bersama Ketua Bidang Luar Negeri PB PASI Boedi Darma Sidi (Dok PB PASI)

 

Federasi Atletik Dunia (IAAF) memberikan penghargaan kepada Sekjen PB PASI Tigor Mangapul Tanjung, hari selasa, 18 Agustus 2015 lalu. Penghargaan "Plaque of Merit' yang diserahkan secara langsung oleh Presiden IAAF Lamine Diack di sela acara pembukaan Kongres IAAF ke-50 di beijing, China  tersebut merupakan sebuah penghargaan tertinggi bagi insan Atletik atas pengabdian dan dedikasi yang tinggi pada Atletik Dunia. "Saya sangat bersyukur kepada Tuhan atas penghargaan ini, dan menjadikan ini kado bagi ulang Tahun RI ke-70," ujar Sekjen PB Pasi Tigor Tanjung.  CEO sejumlah perusahaan swasta ini juga mengucapkan banyak terimakasih kepada keluarga dan dukungan banyak pihak yang telah memberikan dukungan kepadanya selama mendedikasikan dirinya selama lebih dari 40 tahun di dunia atletik, baik di Indonesia, maupun Asia.

Selain kepada Tigor Tanjung, IAAF juga memberikan penghargaan kepada Presiden China, Xi Jinping berupa Golden Order Of Merit atas support China terhadap penyelenggaraan berbagai kejuaraan Atletik di China, termasuk Kejuaraan Dunia Atletik, yang kini tengah berlangsung.  

 

 

"Tapping Test" salah satu metode tes parameter 

 

Jakarta,  6 Agustus 2015

 

Pemanfaatan Sports science dalam upaya meningkatkan prestasi atlet sudah menjadi sebuah kebutuhan saat ini. tak terkecuali di cabang olahraga atletik. Bahkan, atletik Indonesia berhasil membuktikan sebagai cabor yang  paling aktif dan maju dalam memanfaatkan sports science. Setidaknya hal itu bisa dilihat dari pelaksanaan tes parameter yang dilakukan PB PASI, selasa dan rabu lalu (5/8-6/8) di Stadion Madya Senayan Jakarta.  

Lebih dari 50 atlet semua nomor yang berada di Pelatnas PB PASI baik di tingkat remaja, yunior dan senior mengikuti tes parameter yang digagas bidang pembinaan PB PASI. Dikoordinasi wakil ketua bidang Pembinaan Nanang H Kusuma, para atlet mengikuti tiga parameter tes yaitu foot taping, Cadance dan 3 hop kiri-kanan. “Kita ingin mengetahui kapasitas si atlet di nomor sprint, apakah dia berbakat atau tidak,” ujar Nanang.

Foot taping yaitu menghitung jumlah pijakan cepat seorang atlet yang dihitung selama 15 detik. Sementara Cadance yaitu stroke langkah atau frekuensi langkah per detik  dengan  menggunakan metode berlari sprint sepanjang 30 meter. Cadance, menurut Nanang, merupakan salah satu test parameter sederhana untuk mengetahui apakah Atlet tersebut mempunyai serabut otot putih atau otot merah. Serabut otot putih untuk sprinter dan serabut otot merah untuk Olahraga yg memerlukan dayatahan. “Agar setiap atlet yang kita latih sesuai dengan karakter ototnya. Jadi, kalau dia ternyata punya serabut otot merah, maka percuma kita latih sprint, karena dia tidak berbakat disana,”ujar Nanang.

Ide untuk menguji kembali para atlet yang dibina PB PASI ini muncul dilatarbelakangi keprihatinan ketua umum PB PASI Bob Hasan atas prestasi sprinter-sprinter nasional. Sejak kehadiran sprinter M Sarengat yang berhasil meraih medali emas nomor 100 M dan 110 M gawang di Asian Games 1962 sekaligus memecahkan rekor nasional 100 meter dengan 10,40 detik, jumlah sprinter putra Indonesia yang bisa berprestasi di tingkat Asia Tenggara atau bahkan di level Asia jumlahnya tak lebih dari 10 orang.

Purnomo yang berhasil memecahkan rekornas dengan catatan waktu 10,30 menjadi satu-satunya atlet Asia yang berhasil menembus babak semifinal saat mengikuti olimpiade Los Angeles 1984.   Prestasi Purnomo kemudian dilanjutkan di arena estafet 4 x 100 meter. Bersama pelari berdarah Papua asal Sulawesi Utara Christian Nenepath,   Johannes Kardiono, dan Ernawan Witarsa.

Christian Nenepath adalah pelari Indonesia pertama yang meraih medali emas bagi Indonesia pada SEA Games 1985 di Bangkok. Prestasi sprinter putra kemudian berlanjut di era  sprinter asal Sumatera Utara  Mardi Lestari yang berhasil memecahkan rekornas dengan kecepatan 10,20 detik di ajang  Asian Games.   

Rekornas Mardi lestari kemudian dipecahkan oleh Suryo Agung Wibowo yang berhasil mendominasi Asia tenggara dengan catatan waktu 10,17 detik. Regenerasi Suryo Agung kemudian berhenti di atlet asal Papua Franklin Ramses Burumi yang berhasil merebut dua medali emas SEA Games.  “Jadi, jumlahnya tak sampai sepuluh orang,” ujar Bob Hasan.

Pria yang telah puluhan tahun membina atletik ini juga menunjuk ‘prestasi’ yang sama di nomor putri. Sejak kemunculan Caroline Riewpassa di tahun 70an, hanya ada Henny Maspaitella, Emma Tahapary, Irene Truitje Yoseph (rekornas 11,56 detik) dan Serafi Anelies Unani  yang mampu bersaing di level Asia dalam nomor sprint. “Tes parameter ini membuktikan bahwa memang sprinter itu dilahirkan, bukan dihasilkan,” ujar Bob Hasan.         

Suasana Pelatihan pelatih Atletik Level I IAAF (Foto: dok Norman R/PB PASI) 

 

Jakarta, Selasa, 3 Agustus 2015

PB PASI dan RDC IAAF kembali melaksanakan kursus kepelatihan bagi calon pelatih dan pelatih IAAF CECS Level  I IAAF di Stadion Madya Senayan Jakarta.  Pelatihan yang berlangsung selama 10 hari tersebut diikuti 20 calon pelatih dan pelatih muda dari seluruh Indonesia.

Tampak diantara peserta, yaitu pemegang rekornas 100 meter putra Suryo Agung Wibowo, atlet peraih 10 medali emas SEA Games Triyaningsih, dan pemegang rekornas 100 meter remaja Nurul Imaniar serta mantan sprinter putri  nasional Deysie Sumigar. Dalam pelatihan yang berlangsung sejak senin, 3 Agustus 2015 dan berakhir tanggal 13 Agustus 2015 tersebut, para peserta dibimbing oleh kepala RDC IAAF Jakarta Ria Loemintarso dan Dr Eddy Purnomo.

 

Maria Londa saat Selebrasi merayakan saat menjuarai nomor lompat jangkit (foto : J.Handianto/PB PASI)

 

Menutup keseluruhan perlombaan Atletik Sea Games 2015 di Singapura. Tim Atletik Indonesia berhasil menambah satu medali emas dari nomor 3000 M Steeplechase Putri lewat atlet Rini Budiarti. Atlet asal DKI Jakarta ini , mampu masuk garis finish dengan catatan waktu 10 menit 20.40 detik mengguguli lawan terberatnya asal Vietnam Thi Phuong Nguyen yang mencatat waktu 10 menit 32, 61 detik dan Pelari Filipina Jessica Lynn Barnard dengan waktu 10 menit 36.90 detik.  

 

Perolehan medali emas dari Rini membuat tim Atletik Indonesia berhasil mengumpulkan tujuh medali emas  4 perak dan 4 perunggu.  Hasil ini melampaui target yang ditetapkan KONI yaitu sebanyak enam medali emas. “Kami tentu sangat bersyukur bisa melampaui target medali emas,”ujar Sekjen PB PASI Tigor Tanjung.

 

Dari keseluruhan perolehan medali emas SEA Games 2015 yang diperoleh Indonesia hingga hari ini, Tigor menambahkan, Atletik berhasil menyumbang lebih dari 20 % nya. Selain Rini Budiarti, emas Atletik Indonesia diperoleh dari atlet Triyaningsih yang meraih dua medali emas di nomor 5000 m dan 10000 meter, atlet Maria Natalia Londa yang juga meraih dua medali emas (Lompat jauh dan Lompat jangkit), Hendro (Jalan cepat) dan Agus Prayogo (10000M).

 

Sementara 4 medali perak diraih  Rini Budiarti dari nomor 5000 M, Yaspi Boby (100 m), Agus Prayogo (5000 M), dan Dedeh Erawati (100 M gawang).  Sementara medali perunggu diraih atlet Atjong Tio Purwanto (3000 m steeplechase), Iswandi (100 M), Andrian (400 m gawang), dan Tim Estafet putra (4 x 100M).    

 

Menurut Tigor Tanjung, sejumlah negara mengalami kemajuan dalam prestasi, diantaranya  tuan rumah Singapura, dan Vietnam. Begitu pula, Filipina yang secara keseluruhan berada di bawah Indonesia khususnya setelah diperkuat atlet indoamerika. “Indo Amerikanya Filipina ini yang tidak kita prediksi, karena pada SEA games sebelumnya, dia turun di nomor 400 m gawang, sekarang malah kuat di sprint 100 M,” ujar Tigor Tanjung. 

 

Dari hasil SEA Games ini, menurut Tigor, PB PASI akan melakukan evaluasi dan terus meningkatkan pengetahuan mengenai perkembangan atletik Indonesia sehingga bisa terus bersaing dan kembali mendominasi atletik di Asia tenggara dan bahkan di Asia. .

 

Kemajuan atlet Vietnam juga diakui atlet Agus Prayogo. Sersan satu TNI AD ini,  terpaksa merelakan medali emas 5000 meter setelah dipecundangi atlet  Vietnam Nguyen Van lai di putaran akhir lomba, pada hari selasa lalu. “Tapi, hari saya berhasil membalas ‘dendam’ dengan mengalahkannya di 10.000 m,” ujar Agus.

 

Sejak awal lomba Agus langsung memimpin dana secara konsisten berusaha meninggalkan lawan-lawannya di belakang dan masuk finish dnegan catatan waktu 28;41.56 detik. Dalam lomba yang mengambil lintasan di National Stadium sebanyak 25 putaran tersebut, Nguyen malah tercecer di posisi keenam.  Sementara posisi kedua dan ketiga nomor 10.000 meter dikuasai pelari Thailand Srisung Boonthung (30;05.22) dan pelari Myanmar San Naing (30;26.23).  “Tapi, catatan waktu saya kali ini, bukan  waktu yang terbaik saya, karena waktu terbaik saya 29;25.00,” ujar Agus. 

 

Catatan waktu terbaik justru diperoleh Maria Londa. Gadis asal Bali berusia 24 tahun ini malah berhasil memecahkan rekor nasional atas namanya sendiri. Maria mencatat lompatan sejauh 6,70 meter atau lebih baik daripada rekornas sebelumnya yang dibuatnya di ajang Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan yaitu 6,55 M. “Tapi saya belum bisa memecahkan rekor SEA Games, 6,71 M,” ujar Maria Londa.

 

Menurut Maria, hasil yang didapatnya dipersembahkan bagi seluruh rakyat Indonesia yang telah memberikan support kepadanya selama ini, dan kepada orang tua serta pelatihnya Ketut Pageh, yang

akan berulangtahun pada tanggal 29 Juni mendatang. Maria juga mengatakan pada saat memenangi lompat jangkit, ia sebenarnya dalam kondisi kesakitan akibat luka lama di kakinya kambuh lagi. Namun, rasa sakit itu ia tahan, dan sengaja tidak ditunjukan agar lawannya yang merupakan saingan terdekat baik di SEA Games kali ini, maupun di Asian Games Inchon, Korea Selatan, 2014 lalu Hue Hoa Tran.    

 

Hal sama dikatakan pelatih Maria Londa, Ketut Pageh. Menurut Ketut, untuk menghilangkan rasa sakit, Pageh terus memompa semangat dan motivasi Maria untuk berjuang habis-habisan. Hingga, Maria pun melupakan rasa sakitnya. “Dia (Maria) bahkan bilang, saat lompat udah gak ‘merasakan’ kakinya lagi, “ ujar Pageh.   

 

Pada SEA Games 2015, Atletik Indonesia mengirim 23 atlet terbaiknya ke ajang SEA Games 2015 Singapura.

 

HF

 

Total perolehan medali emas Cabang Atletik

                                                Emas Perak Perunggu

  1. Thailand                    17        13        9
  2. Vietnam                     11        15        8
  3. Indonesia                  7          4          4
  4. Filipina                       5          7          9
  5. Singapura                 3          3          3

 

 Ketua umum PB PASI Bob Hasan seusai menyerahkan medali kepada Maria Natalia Londa

 

Triyaningsih tak tertandingi. Gadis asal Salatiga ini, langsung memimpin lomba lari nomor 10000 M begitu pistol start dibunyikan. Bahkan, saat melewati 3000 Meter dia mampu melampaui atlet asal Vietnam yang menjadi saingannya. triyaningsih masuk garis finish dan berhasil mempertahankan medali emas SEA Games 10000 M yang pernah diraihnya di SEA Games sebelumnya. Total 10 medali emas sudah disumbangkan sang ratu jalanan Indonesia ini kepada tim Indonesia.

 

Keberhasilan mempertahankan medali emas juga dilakukan oleh Maria Natalia Londa. Juara Asian games nomor lompat jauh ini, berhasil mempertahanakn medali emas nomor lompat jangkitnya. "Syukur pada Tuhan, saya bisa juga mempertahankan medali emas meski rasa sakit muncul lagi di kaki saya," ujar Maria.

 

dengan perolehan dua medali emas, dari Triyaningsih dan Maria LOnda, tim atletik Indonesia berhasil memenuhi target 6 medali emas yang ditetapkan KONI. Sementara itu, pelari 100 meter gawang Dedeh Erawati, gagal mempertahankan medali emasnya. Dedeh hanya menduduki posisi kedua. Sementara itu, yuniornya Emilia Nova menduduki peringkat keempat.

AGus Prayogo saat memasuki Finish 10000 M (J.Handianto/PB PASI)

Harapan Indonesia untuk menambah perbendaharaan medali emas dari cabang Atletik akhirnya terpenuhi. Pada hari keenam penyelenggaraan SEA Games ke-28 Singapura 2015, tim Atletik Indonesia berhasil menyumbangkan dua medali emas dan satu perunggu.  Dua medali emas disumbangkan Pelari Agus Prayogo di nomor 10.000 meter dan Peloncat jauh Maria Natalia Londa. Sementara medali perunggu diraih sprinter asal Nusa Tenggara Barat Andrian di nomor 400 M gawang.

 

Dengan perolehan dua emas ini, maka cabang atletik Indonesia telah menyumbang  4 medali emas, 3 perak dan dua perunggu atau hampir melampaui target enam emas yang dibebankan Pemerintah. Atlet-atlet Indonesia masih berpeluang meraih medali emas dari atlet Triyaningsih di nomor lari jarak jauh 10000 meter  yang akan berlaga pada kamis besok (11/6/2015), Maria  Londa (Lompat jangkit), Rini Budiarti (3000 m steeplechase) dan Dedeh Erawati (100 M gawang) . Selain itu, para atlet estafet khususnya estafet 4 x 100 meter putra juga masih punya peluang besar  meraih medali emas. “Semoga saja (meraih emas), Tapi kita boleh mendahului ketentuan Tuhan,” kata Sekjen PB PASI Tigor Tanjung.

 

Ia melihat sejumlah negara mengalami kemajuan dalam prestasi, diantaranya  tuan rumah Singapura, dan Vietnam. Apalagi , Filipina yang diperkuat atlet hasil Naturalisasinya yang berhasil mengawinkan medali emas sprint 100 meter putra putri. “Indo Amerikanya Filipina ini yang tidak kita prediksi, karena pada SEA games sebelumnya, dia turun di nomor 400 m gawang, sekarang malah kuat di sprint 100 M,” ujar Tigor Tanjung. 

 

Hal itu diakui atlet Agus Prayogo. Sersan satu TNI AD ini,  terpaksa merelakan medali emas 5000 meter setelah dipecundangi atlet  Vietnam Nguyen Van lai di putaran akhir lomba, pada hari selasa lalu. “Tapi, hari saya berhasil membalas ‘dendam’ dengan mengalahkannya di 10.000 m,” ujar Agus.

 

Sejak awal lomba Agus langsung memimpin dana secara konsisten berusaha meninggalkan lawan-lawannya di belakang dan masuk finish dnegan catatan waktu 28;41.56 detik. Dalam lomba yang mengambil lintasan di National Stadium sebanyak 25 putaran tersebut, Nguyen malah tercecer di posisi keenam.  Sementara posisi kedua dan ketiga nomor 10.000 meter dikuasai pelari Thailand Srisung Boonthung (30;05.22) dan pelari Myanmar San Naing (30;26.23).  “Tapi, catatan waktu saya kali ini, bukan  waktu yang terbaik saya, karena waktu terbaik saya 29;25.00,” ujar Agus. 

 

 

 

Triyaningsih Berfoto bersama Rini Budiarti dan Ketua Umum PB PASI Bob Hasan disaksikan presiden AAA Gen Dahlan

 

Triyaningsih tak bisa menutupi kebahagiaanya. Seusai masuk  finish di urutan pertama nomor 5000 m, gadis asal Salatiga, Jawa Tengah langsung sujud syukur di lintasan National Stadium, Singapura, selasa lalu. Ratu jalan raya Indonesia ini tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan. Bangkit dari sujudnya, ia langsung berlari menghampiri tribun terbawah  menemui keluarganya yang telah menunggunya. “Terimakasih Indonesia, terimakasih semua atas support dan doanya,” ujar Triyaningsih.   

Kemenangannya di Singapura kali ini memang terasa istimewa sejak dia meraih medali emas pertamanya di SEA Games Nakhon Ratchasima  di Thailand, delapan tahun lalu. Secara total ia sudah mengumpulkan sembilan medali emas baik di nomor 5000 meter, 10000 meter dan marathon dari empat SEA  Games yang diikutinya.

Kamis ini, Tri, demikian ia biasa disapa punya kesempatan menggenapkan raihan medali emasnya dari nomor 10.000 meter. “Semoga di nomor 10.000 meter, saya tak mengalami kesulitan berarti, apalagi saya sudah cukup lama nggak ikut kompetisi, jadi lebih fresh,” ujar Tri.

Sejak setahun lalu, Tri dibekap cedera pada telapak kakinya. Ia sempat bolak balik ke Singapura untuk menjalani proses pemulihan di bawah pantauan  pelatih fisik asal Inggris dan Australia Declan Halpin dan Robert Ashton. Proses pemulihan yang langsung di bawah supervisi ketua umum PB PASI Bob Hasan itu berlangsung cukup lama. Ia harus melewatkan kesempatan berlaga di Asian Games Korea Selatan, tahun lalu demi menjaga proses pemulihan cederanya.

Kini, Tri berhasil membuktikan bahwa dominasinya di nomor jarak jauh belum tergantikan. “Selain  bersyukur, karena proses pemulihan cederanya berhasil dengan baik, jangan lupa, kita perlu bersyukur bahwa ada dua atlet kita di lintasan, sehingga strategi team bisa kita terapkan dengan baik,” ujar Tigor Tanjung, sekjen PB PASI.

Dari sisi waktu, hasil yang diraih Triyaningsih menurut Tigor Tanjung, sebenarnya agak mengecewakan. Gadis 28 tahun ini hanya mencatat waktu 16;18.06 detik.  Padahal waktu terbaiknya, yang juga rekornas 15;54,32 detik.  “Dia (Triyaningsih) masih punya peluang mencatat waktu lebih baik ke depannya,” ujar Tigor Tanjung.

Hingga berita ini diturunkan, perolehan Medali emas yang diraih Triyaningsih telah menambah perbendaharaan medali emas Indonesia dari cabang Atletik menjadi dua emas tiga  perak dan dua perunggu. Satu medali emas sebelumnya diraih atlet putra Hendro di nomor 20 KM jalan cepat yang berlangsung hari sabtu lalu di East Coast Park, Singapura. Sementara tiga medali perak diraih sprinter asal Sumatera Barat Yaspi Boby dan pelari asal DKI jakarta Rini Budiarti serta pelari NTB ANdrian..

Sedangkan medali  perunggu diraih Iswandi di nomor yang sama dengan Yaspi Boby. “Seharusnya, kita bisa meraih medali emas dan perak nomor 100 meter, tapi kalah sama Filipina yang menggunakan atlet Naturalisasi,” ujar Bob Hasan, gundah. Tim Filipina menurunkan dua atlet naturalisasinya di nomor sprint 100 M putra dan putri yang berhasil meraih medali emas SEA Games kali ini. Sprinter berdarah Amerika Serikat Eric Shauwn Cray memenangi nomor 100 meter putra dengan catatan waktu 10,25 detik.

Sementara atlet putri kelahiran Amerika Serikat Kayla Anise Richardson memenangi nomor 100 meter putri dengan catatan waktu 11,76 detik. Menurut ketua umum PB PASI Bob Hasan, menularnya virus naturalisasi di cabang atletik oleh sejumlah negara ASEAN patut disesali. Atlet merupakan aset dan kebanggaan bangsa,  sehingga sudah seharusnya menjadi kebanggaan pula bila atlet yang menjadi juara merupakan hasil pembinaan negara itu sendiri. “Kalau naturalisasi, kebanggaannya dimana? Menjadi juara itu, penting, tapi lebih penting bisa menghasilkan juara,” tambah mantan menteri perindustrian dan perdagangan ini.

Page 3 of 11
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…