e

Tine Dreier dan Jan Dreier Sedang memberi Pengarahan kepada Pelatih-pelatih Daerah saat Coaching Clinic di Makassar

 

Bagaikan magnet, satu persatu pelatih atletik dari berbagai daerah berebut untuk berfoto berdua dengan Nele Saar. Gadis asal Jerman ini pun tak kuasa untuk menolak. Dengan wajah yang tampak masih lelah, pelatih atletik yang baru berusia 21 tahun ini, tetap berusaha tersenyum selama difoto. Selain Nele, tiga pelatih asal Jerman lainnya; Jan Dreier, Kristine Dreier dan Marcus, juga menjadi sasaran foto bareng atau sekadar selfie. “Buat kita di Daerah, momen ini sangat langka. Kapan lagi, kita bisa diajari atletik oleh pelatih-pelatih Jerman,” ujar Marens Tomasoa, pelatih asal Maluku.

 

Sesi foto bersama menjadi momen penutup dari seluruh rangkaian acara “Coaching Clinic” yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, selasa, 27 Oktober 2015 lalu. Acara pelatihan yang berlangsung di Gedung Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sulawesi Selatan ini diikuti oleh 40 orang pelatih muda dari berbagai daerah di kawasan timur Indonesia. Diantaranya dari Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan Maluku.

 

Acara Pelatihan bertajuk “Athletics for Young Children ini berlangsung selama lima hari, sejak tanggal 23 Oktober 2015. Sebelum di Makassar, Nele dan rekan-rekannya juga memberikan pelatihan di Solo, Jawa Tengah dari tanggal 19 Oktober hingga 22 oktober 2015. Di Solo, para pelatih atletik yang diikutsertakan berasal dari kawasan barat Indonesia seperti Sumatera, Jawa hingga di Jakarta.

 

Menurut Sekjen Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Tigor Tanjung, Coaching Clinic ini merupakan bagian dari program kerja sama PB PASI dengan Federasi Atletik Jerman (DLV) dan negara bagian Schleswig Holstein (SHLV) yang sudah terjalin lama. Kegiatan ini, lanjut Tigor Tanjung, diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada pelatih-pelatih daerah untuk menambah pengetahuan sebanyak-banyaknya dari pelatih asing khususnya dalam bidang pelatihan atletik remaja dan anak-anak.

 

Dipilihnya Solo dan Makassar sebagai tempat penempaan para pelatih daerah, dan bukan Jakarta, menurut Ketua Umum PB PASI Mohamad Bob Hasan, karena dianggap kedua daerah lebih siap dan bisa merepresentasikan kedua kawasan Indonesia yang sama sama memiliki potensi atlet muda. "Dengan memilih kedua tempat di luar Jakarta ini, PB PASI berharap sosialisasi keilmuan ini bisa menjangkau lebih banyak peserta daerah dari provinsi yang lebih banyak pula," ujar Muhamad 'Bob' Hasan.

 

Selama ini, banyak dari pelatih-pelatih daerah yang potensial, tidak bisa berkembang akibat tidak mengikuti perkembangan Science Sports yang selalu didengungkan PB PASI. Mereka mengalami kesulitan dalam mengakses pola dan metode pelatihan kepada anak-anak maupun remaja lewat fasilitas internet. Keterbatasan jaringan menjadi kendala klasik selain mahalnya infrastruktur penunjang.

 

Akibatnya, banyak metode pelatihan, khususnya pelatihan atletik bagi anak anak atau Kids Athletics dan Atletik bagi remaja, yang selama ini dijalankan oleh para pelatih daerah belum sesuai dengan metode pelatihan athletik modern. “Makanya kita datangkan para pelatih Jerman ini langsung,”tegas Mohamad Bob Hasan.

 

Dalam pelatihan, banyak hal-hal baru yang ditunjukan oleh kwartet pelatih Jerman ini. Diantaranya, melakukan latihan dasar-dasar gerak (seperti berjalan, lari, lempar, dan lompat) yang dikombinasikan dengan permainan dan kerjasama tim serta kemauan. “Yang terpenting, dalam Kids Athletics adalah bahwa Athletics itu haruslah menyenangkan, dan bergembira. Tidak boleh ada kekerasan, dan lainnya,” ujar Jan Dreier, ketua tim pelatih asal Jerman.

 

Ia yakin, jika kids athletics yang merupakan pondasi dalam proses regenerasi atlet bisa berjalan baik, maka potensi-potensi dan bakat-bakat atlet yang ada di Indonesia bisa terasah dan muncul lebih banyak lagi. Para pelatih daerah yang kebanyakan adalah para guru olahraga ini, menurut Jan, diharapkan bisa membawa pengetahuan dan pengalaman yang didapat untuk diterapkan di daerah masing-masing. “Keingintahuan dan motivasi mereka (Para pelatih daerah) cukup tinggi,” kata Jan Dreier.

 

Ketua Pengprov PASI Sulawesi Selatan (Sulsel) Haris Yasin Limpo menyambut baik inisiatif PB PASI menyelenggarakan pelatihan di Makassar. Adik kandung Gubernur Sulsel Syahril Yasin Limpo, ini bahkan berharap coaching clinic semacam ini dapat terus diselenggarakan PB PASI, dan Pengprov PASI siap menjadi tuan rumah pelatihan. “Kami berharap, dengan diadakanya pelatihan disini, akan banyak lahir pelatih-pelatih atletik berbakat yang bisa menghasilkan lebih banyak lagi atlet-atlet atletik bagi Sulsel khususnya.”

 

Asmara Bara  saat memimpin di nomor lomba Marathon Nasional Putra (Dok PB PASI/Eva A)

 

 

 

Full Marathon Elite Runner Men :

1.    Geoffrey Kiprotich Birgen (2 Jam 17 Menit 38 detik)

2.    Joshat Kiptanui Too Chobel (2 Jam 18 Menit 22 Detik)

3.    Luka Chelimo Kipkemoi (2 Jam 19 Menit 54 Detik)

 

Full Marathon Elite Runner women


1. Shankutie  (2.43:29)
2. Mercy Jilemo Too  (2.43:45)
3. Margareth Njuguna  (2.48:09)

Full Marathon Nasional Men


1. Asmara Bara  (2.32:00)
2. Agus Prayogo (2.33:02)
3. Saiin Alim    (2.34:00)

 

Full Marathon Nasional Women

1. Triyaningsih (3.05;24)

2. Olivia Sadi  (3.06;45)

3. Erni Ultaningsih (3.17;14)

 

Half Marathon Men :

1.    John Lorono Loria  (1.05;55)

2.    Stanley Kipkoech Kirul (1.07;16)

3.    Wairuri Anthony Kahuthu (1.07;47)

 

Half Marathon Women :


1. Peninah Jepkocech Kigen (01.22;54)
2. Sheryl Gruber (01.39;19)
3. Haidi Makinen (01.40;34)

Nomor 10 K Men

1.    Jauhari Johan (31 menit 40 detik)

2.    M Ridwan  (32 menit 11 detik )

3.    Rafi Dwitama Yusuf (41 menit 49 detik)

 

Nomor 10 K Women

 

1.    Rini Budiarti (37 Menit 30 detik)

2.    Nyai Prima Agitha (38 Menit 19 detik)

3.    Novita Andriyani (38 Menit 27 Detik)

 

Nomor 5 K Men

1.    Abdul Haris (16 menit 55 detik )

2.    Muhammad Amirullah (16 Menit 56 detik)

3.    Khamid Shoiman (17 Menit 02 Detik)

 

Nomor 5 K Women

1.    Yanita Sari (18 Menit 50 detik)

2.    Rieke Febrianti (18 Menit 51 Detik)

3.    Ambar Winarsih (20 menit 26 detik)

 

Full Marathon Master Men

1. Roberth Salusu (2.49:53)
2. Joko Pitoyo (2.57:20)
3. Holil  (3.07;27)

Full Marathon master Women:

1.    Supriyati Sutono (3.16;32 Detik)

2.    Rumini Sudrami  (3.22;04)

3.    Raquel Pirera      (3.29;10)

 

Ki-Ka : Norman (pengurus PB PASI), Markus, Tina Dreier, Nele Saar, dan Jan Dreier

 

 

Masih dalam satu paket program kerja samanya dengan Federasi Atletik Jerman (DLV) dan negara bagian Schleswig Holstein (SHLV), Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) akan memulai penataran pelatih dengan tema "Athletics for Young Children" di dua kota di Indonesia. Kegiatan yang mendatangkan empat tenaga ahli dari Jerman ini, pertama kali akan dilakukan di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 19 Oktober 2015 hingga 23 Oktober 2015. Sementara kegiatan kedua akan digelar di Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 23 Oktober hingga 27 Oktober 2015.

Kegiatan yang diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada pelatih-pelatih daerah untuk menambah pengetahuannya akan diikuti oleh perwakilan pelatih dari berbagai daerah yang akan dibagi di dua kota tersebut. "Dengan memilih kedua tempat di luar Jakarta ini, PB PASI berharap sosialisasi keilmuan ini bisa menjangkau lebih banyak peserta daerah dari provinsi yang lebih banyak pula," ujar Bob Hasan, Ketua Umum PB PASI di Jakarta hari Jumat (15/10).

 Para pelatih dari daerah-daerah di pulau Sumatera, Jawa hingga Nusa Tenggara timur akan mengikuti penataran di Solo. Sementara, para pelatih dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua akan berlatih di Makassar. Dalam pelaksanaanya, PB PASI menyerahkan kegiatan penataran kepada pengurus Provinsi PASI Jawa tengah dan Pengprov PASI Sulawesi Selatan. “Baik Pengprov PASI Jawa Tengah mau pun Pengprov PASI Sulawesi Selatan sebagai pelaksana lokal penataran merasa bangga diserahi tanggung jawab seperti ini. Mereka bekerja dengan serius untuk mempersiapkan kegiatan ini,” ujar Sekjen PB PASI Tigor Tanjung.  

 Keempat tenaga ahli Jerman yang akan memberikan penataran yaitu Jan Dreier, Christine Dreier, Nele Saar dan Markus. Mereka akan didampingi wakil ketua bidang pembinaan dan prestasi Anang Kusuma.

 

Para Peserta berfoto Bersama saat pembukaan Penataran  (Dok FB PB PASI )

Sebanyak 23 pelatih muda dari berbagai daerah berhasil menyelesaikan penataran pelatih Level II Federasi Atletik Internasional (IAAF), kamis lalu (15/10). Penataran yang berlangsung sejak tanggal 2 Oktober tersebut berlangsung di Stadion Madya Senayan, Jakarta. “Alhamdulillaah diberi kesempatan oleh PB PASI mengikuti IAAF CECS L II bersama dengan pelatih-pelatih hebat lainnya dan penatar. Senang bisa saling diskusi dan saling memberi masukan yg semuanya sangat-sangat berharga & bermanfaat, khususnya untuk saya. InsyaAllah kegiatan ini memberikan dampak positif bagi kemajuan Atletik Indonesia,” ujar Agung Mulyawan, salah satu peserta penataran asal DKI Jakarta.

 

Penataran bertajuk Persiapan Menghadapi Asian Games 2018 ini  diikuti oleh para pelatih yang telah lulus atau memiliki sertifikasi Level I IAAF dan lolos seleksi untuk ke level II. Diantara para pelatih muda tersebut, terdapat sejumlah mantan atlet nasional yang kini bekecimpung sebagai asisten pelatih nasional diantaranya atlet asal Sumatera Selatan Ni Putu Desi Margawati, Apip Dwi Cahyono (Jawa Timur), Yurita Aryani Arsyad (DKI Jakarta) dan Agung Mulyawan (DKI Jakarta).

  

Sekretaris Jenderal PB PASI Tigor M Tanjung mengatakan, pelatihan pelatih-pelatih muda dari berbagai daerah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas para pelatih. Melalui program yang diadakan bekerjasama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga dan KONI Pusat ini, lanjut Tigor Tanjung, diharapkan lahir pelatih-pelatih muda bertangan dingin yang mampu menghasilkan atlet-atlet Indonesia yang berprestasi dunia. “Mereka harus bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat dari penataran ini di medan tugasnya nanti,”  ujar Tigor Tanjung.

 

Dari keduapuluhtigapelatih peserta penataran tersebut, menurut Panitia Penataran Level II IAAF Sri Purwidayati, kesemuanya dinyatakan lulus dan berhak atas sertifikat Level II IAAF. Bahkan, lanjut Sri yang juga anggota komisi Pelatih PB PASI ini, enam orang lainnya dinyatakan layak atau eligible untuk ikut penataran Level III IAAF. Keenam orang pelatih tersebut yaitu Agung Mulyawan (DKI Jakarta), Lucya febrianti dan Apip Dwi Cahyono (Jawa Timur), Danar Widhi Permana (Lampung), Kong Min (Jambi) serta Zainal Abidin Harahap (Riau).    

Dedeh Erawati menjuarai nomor 100 M Gawang putri (PB PASI/Eva Agriana)

 

Hingga menjelang penutupan penyelenggaraan kejurnas Atletik Yunior dan Senior 2015 kualifikasi PON XIX Jawa Barat, baru terjadi satu pemecahan rekornas oleh atlet lontar martil putra asal Riau Denny Putra. Atlet kelahiran 24 Mei 1998 ini memecahkan rekornas yunior atas nama Frans de Boer yang dibuat pada 2013 lalu. Denny berhasil melakukan lontaran sejauh 55.14 meter atau lebih baik 0,72 m dari rekor lama sejauh 54.42m . “Senang sekali bisa memecahkan rekornas,” ujar Denny.

 

Ia mengaku lontaran ini juga mengejutkannya karena selama latihan, ia tak pernah mencatatkan lemparan sejauh itu. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Ganda Sianturi dan Lisbeth Situmorang ini berhasil mengalahkan atlet DKI Jaya Ahmad Erbakan dan atlet Jawa Barat Vincent yang masing masing menduduki posisi kedua dan ketiga.     

Jakarta, 1 September 2015

Pejalan cepat nasional asal Jawa Barat Hendro 'Endro Kim Lung' belum tertandingi di nomor jalan cepat putra. Juara SEA Games 2015 ini, berhasil meraih medali emas di nomor 20 Km jalan Cepat putra pada kejuaraan Nasional Atletik Yunior Senior 2015. "Saya sebenarnya mengejar perbaikan waktu, tapi belum berhasil," kata Hendro, seusai lomba. Hendro menyentuh garis finish dengan catatan waktu 1;33,54 detik atau masih jauh dari rekor nasional yang dipegangnya yaitu 1; 27.00 detik. Posisi kedua dan ketiga ditempati pejalan cepat asal Riau, Hakmal Lisauda dan Kristian L Tobing. keduanya mencatat waktu maisng-masing 1;36.02 detik dan 1;36,26 detik. Sayang waktu keduanya belum berhasil melampaui limit PON yaitu 1;35.00. Hanya Hendro yang berhasil melampaui limit PON.

Dominasi Hendro sendiri berlangsung sejak start dibunyikan. Ia langsung melesat meninggalkan rombongan pejalan cepat yang terdiri dari 17 atlet. "sebenarnya, saya masih bisa lebih cepat lagi, tapi sempat neyeri di kaki , jadi saya tidak mau memaksakan diri," tambah Hendro. Dengan capaian Hendro ini, tim Jawa Barat saat ini telah mengoleksi 1 medali emas di seri Kejurnas yang diikuti lebih dari 740 atlet dari 34 propinsi tersebut. Medali emas noimor jalan cepat 20 km putri sendiri diraih atlet asal Jawa Timur, Inayati yang berhasil masuk finish dengan catatan waktu 1;52,08 detik. Mantan atlet pelatnas PB PASI ini, unggul atas atlet Jawa Tengah Risa Wijayanti yang berada di posisi kedua dan atlet Kalimantan Barat Sri Juliani yang berada di posisi ketiga. Namun, ketiganya berhasil lolos limit PON yaitu 2;00,00 detik. "ALhamdulillah, bisa juara, padahal persiapannya sangat mepet, satu minggu sebelum ke Jakarta baru latihan, sebelumnya saya tak bis alatihan karena karena sempat cedera," ujar Inayati.

 

HF

 

 

 

M Hafiz saat berlaga di Kejurnas 2014 (Dok PB PASI)

 

 

Jakarta, 28 Agustus 2015,

Antusiasme daerah untuk mengikuti Kejuaraan Nasional Atletik Yunior dan Senior 2015 (Kejurnas 2015)  mencapai puncaknya tahun ini. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, pada kejurnas kali ini, seluruh provinsi mengirim utusannya untuk berlomba. Tercatat, setidaknya ada 742 atlet yang terdiri dari  492 atlet putra dan 250 atlet putri telah terdaftar di panitia Pelaksana Kejurnas PB PASI.  

 

Bahkan, provinsi paling muda yaitu Kalimantan Utara ikut mengirimkan kontingen atletnya. “Bisa jadi karena Kejurnas kali ini menjadi ajang kualifikasi terakhir cabang atletik untuk keseluruhan atlet agar bisa ikut ambil bagian di Pekan Olahraga Nasional XVIII Jawa Barat tahun 2016 mendatang,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Kejurnas Drs Dwi Prijono, M,Pd.

Jikapun masih ada peluang kualifikasi, lanjut Dwi Prijono, yaitu di Pekan Olahraga Mahasiswa nasional tapi sebatas hanya untuk mereka yang berstatus mahasiswa.  Dari jumlah 742 atlet yang telah menyatakan keikutsertaanya di Kejurnas kali ini, kontingen terbesar datang dari propinsi Jawa Barat dengan atlet berjumlah 62 orang. Diikuti kontingen Jawa Tengah dengan 55 Atlet dan tuan rumah DKI Jakarta yang mengirim 54 Atlet terbaiknya. Kontingen terkecil datang dari Kepulauan Riau, yang hanya mengirim 1 atletnya. Beberapa atlet nasional dan mantan atlet nasional sepert Dedeh Erawati, Triyaningsih dan mantan sprinter nasional Suryo Agung Wibowo,  akan ikut berlaga di Kejurnas 2015.  


Kejurnas kali ini akan berlangsung selama lima hari yaitu dari tanggal 1 September 2015 hingga 5 September 2015. Tak jauh beda dengan Kejurnas remaja dan Pra remaja April 2015 lalu, pada Kejurnas yang mendapat dukungan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga ini, Panpel Kejurnas juga memilih untuk menggelar lomba  di Stadion Atletik Rawamangun, Jakarta Timur.

Namun, khusus nomor jalan cepat 20 km, Menurut Dwi Prijono, Panpel memilih untuk menggelarnya  di Pintu VII Gelora Bung Karno atau persis di sebelah Stadion Madya Senayan, Jakarta.

 

Menurut Sekjen PB PASI Tigor Tanjung, kejurnas kali ini selain menjadi ajang kualifikasi PON Jawa Barat 2016, juga akan dijadikan ajang pencarian bibit bibit muda atletik Nasional. Para talent Scouting dari PB PASI akan memantau setiap atlet yang berpotensi untuk dikembangkan dan memungkinkan untuk dimasukan dalam Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) jangka Panjang yang digelar PB PASI. “Mereka yang dipilih oleh para talent scouting, akan kita tes lagi, sebelum kita masukan ke Pelatnas PB PASI,” ujar Tigor Tanjung.

 

  HF 

 

Sekjen PB PASI Tigor Tanjung (Kanan) Berfoto bersama Ketua Bidang Luar Negeri PB PASI Boedi Darma Sidi (Dok PB PASI)

 

Federasi Atletik Dunia (IAAF) memberikan penghargaan kepada Sekjen PB PASI Tigor Mangapul Tanjung, hari selasa, 18 Agustus 2015 lalu. Penghargaan "Plaque of Merit' yang diserahkan secara langsung oleh Presiden IAAF Lamine Diack di sela acara pembukaan Kongres IAAF ke-50 di beijing, China  tersebut merupakan sebuah penghargaan tertinggi bagi insan Atletik atas pengabdian dan dedikasi yang tinggi pada Atletik Dunia. "Saya sangat bersyukur kepada Tuhan atas penghargaan ini, dan menjadikan ini kado bagi ulang Tahun RI ke-70," ujar Sekjen PB Pasi Tigor Tanjung.  CEO sejumlah perusahaan swasta ini juga mengucapkan banyak terimakasih kepada keluarga dan dukungan banyak pihak yang telah memberikan dukungan kepadanya selama mendedikasikan dirinya selama lebih dari 40 tahun di dunia atletik, baik di Indonesia, maupun Asia.

Selain kepada Tigor Tanjung, IAAF juga memberikan penghargaan kepada Presiden China, Xi Jinping berupa Golden Order Of Merit atas support China terhadap penyelenggaraan berbagai kejuaraan Atletik di China, termasuk Kejuaraan Dunia Atletik, yang kini tengah berlangsung.  

 

 

"Tapping Test" salah satu metode tes parameter 

 

Jakarta,  6 Agustus 2015

 

Pemanfaatan Sports science dalam upaya meningkatkan prestasi atlet sudah menjadi sebuah kebutuhan saat ini. tak terkecuali di cabang olahraga atletik. Bahkan, atletik Indonesia berhasil membuktikan sebagai cabor yang  paling aktif dan maju dalam memanfaatkan sports science. Setidaknya hal itu bisa dilihat dari pelaksanaan tes parameter yang dilakukan PB PASI, selasa dan rabu lalu (5/8-6/8) di Stadion Madya Senayan Jakarta.  

Lebih dari 50 atlet semua nomor yang berada di Pelatnas PB PASI baik di tingkat remaja, yunior dan senior mengikuti tes parameter yang digagas bidang pembinaan PB PASI. Dikoordinasi wakil ketua bidang Pembinaan Nanang H Kusuma, para atlet mengikuti tiga parameter tes yaitu foot taping, Cadance dan 3 hop kiri-kanan. “Kita ingin mengetahui kapasitas si atlet di nomor sprint, apakah dia berbakat atau tidak,” ujar Nanang.

Foot taping yaitu menghitung jumlah pijakan cepat seorang atlet yang dihitung selama 15 detik. Sementara Cadance yaitu stroke langkah atau frekuensi langkah per detik  dengan  menggunakan metode berlari sprint sepanjang 30 meter. Cadance, menurut Nanang, merupakan salah satu test parameter sederhana untuk mengetahui apakah Atlet tersebut mempunyai serabut otot putih atau otot merah. Serabut otot putih untuk sprinter dan serabut otot merah untuk Olahraga yg memerlukan dayatahan. “Agar setiap atlet yang kita latih sesuai dengan karakter ototnya. Jadi, kalau dia ternyata punya serabut otot merah, maka percuma kita latih sprint, karena dia tidak berbakat disana,”ujar Nanang.

Ide untuk menguji kembali para atlet yang dibina PB PASI ini muncul dilatarbelakangi keprihatinan ketua umum PB PASI Bob Hasan atas prestasi sprinter-sprinter nasional. Sejak kehadiran sprinter M Sarengat yang berhasil meraih medali emas nomor 100 M dan 110 M gawang di Asian Games 1962 sekaligus memecahkan rekor nasional 100 meter dengan 10,40 detik, jumlah sprinter putra Indonesia yang bisa berprestasi di tingkat Asia Tenggara atau bahkan di level Asia jumlahnya tak lebih dari 10 orang.

Purnomo yang berhasil memecahkan rekornas dengan catatan waktu 10,30 menjadi satu-satunya atlet Asia yang berhasil menembus babak semifinal saat mengikuti olimpiade Los Angeles 1984.   Prestasi Purnomo kemudian dilanjutkan di arena estafet 4 x 100 meter. Bersama pelari berdarah Papua asal Sulawesi Utara Christian Nenepath,   Johannes Kardiono, dan Ernawan Witarsa.

Christian Nenepath adalah pelari Indonesia pertama yang meraih medali emas bagi Indonesia pada SEA Games 1985 di Bangkok. Prestasi sprinter putra kemudian berlanjut di era  sprinter asal Sumatera Utara  Mardi Lestari yang berhasil memecahkan rekornas dengan kecepatan 10,20 detik di ajang  Asian Games.   

Rekornas Mardi lestari kemudian dipecahkan oleh Suryo Agung Wibowo yang berhasil mendominasi Asia tenggara dengan catatan waktu 10,17 detik. Regenerasi Suryo Agung kemudian berhenti di atlet asal Papua Franklin Ramses Burumi yang berhasil merebut dua medali emas SEA Games.  “Jadi, jumlahnya tak sampai sepuluh orang,” ujar Bob Hasan.

Pria yang telah puluhan tahun membina atletik ini juga menunjuk ‘prestasi’ yang sama di nomor putri. Sejak kemunculan Caroline Riewpassa di tahun 70an, hanya ada Henny Maspaitella, Emma Tahapary, Irene Truitje Yoseph (rekornas 11,56 detik) dan Serafi Anelies Unani  yang mampu bersaing di level Asia dalam nomor sprint. “Tes parameter ini membuktikan bahwa memang sprinter itu dilahirkan, bukan dihasilkan,” ujar Bob Hasan.         

Suasana Pelatihan pelatih Atletik Level I IAAF (Foto: dok Norman R/PB PASI) 

 

Jakarta, Selasa, 3 Agustus 2015

PB PASI dan RDC IAAF kembali melaksanakan kursus kepelatihan bagi calon pelatih dan pelatih IAAF CECS Level  I IAAF di Stadion Madya Senayan Jakarta.  Pelatihan yang berlangsung selama 10 hari tersebut diikuti 20 calon pelatih dan pelatih muda dari seluruh Indonesia.

Tampak diantara peserta, yaitu pemegang rekornas 100 meter putra Suryo Agung Wibowo, atlet peraih 10 medali emas SEA Games Triyaningsih, dan pemegang rekornas 100 meter remaja Nurul Imaniar serta mantan sprinter putri  nasional Deysie Sumigar. Dalam pelatihan yang berlangsung sejak senin, 3 Agustus 2015 dan berakhir tanggal 13 Agustus 2015 tersebut, para peserta dibimbing oleh kepala RDC IAAF Jakarta Ria Loemintarso dan Dr Eddy Purnomo.

Page 3 of 11
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…