Bob Hasan menyaksikan penandatanganan MOU antara Joko Driyono dan Tigor Tanjung

 

Bertempat di Stadion Madya, Senayan Jakarta Pusat, Jumat (13/2) PSSI dan PASI akhirnya menandatangani Nota Kesepahaman tentang  Penyelenggaraan Perlombaan Sprint di sela-sela waktu penyelenggaraan liga sepakbola Indonesia Super League (ISL) 2015. Nota kesepahaman tersebut ditandatangani Sekjen PB PASI Tigor M Tanjung dan Sekjen PSSI Joko Driyono yang disaksikan langsung Ketua Umum PB PASI Mohamad Bob Hasan.

Joko Driyono mengatakan, inisiatif kerjasama ini bermula dari bincang-bincang ringan di kediaman Bob Hasan sekitar dua bulan lalu.  "Begitu nyambung, langsung kita wacanakan dan atur," ujarnya.

Tujuannya, kata Joko untuk mengkampanyekan atletik agar semakin dikenal dan tumbuh atlet-atlet baru. Selain itu PSSI selalu terbuka untuk menjalin kerjasama dengan cabang olahraga lain tak terkecuali atletik. "Dan saya rasa baik PSSI dan PASI sama-sama dapat keuntungan dari kerjasama ini. Selain itu ada edukasi yang bisa diambil," ungkapnya.

Lanjut Joko, ISL sendiri yang akan bergulir 21 Februari 2015, akan mempertandingkan 306 pertandingan dengan memakai 67 stadion. "Jadi nanti teknisnya kita akan bicarakan lebih lanjut, apakah lomba atletik akan ada di setiap pertandingan, atau bagaimana," katanya.

Sementara itu, Sekjen PB PASI Tigor M Tanjung menjelaskan, dalam nota kesepahaman tersebut, disepakati bahwa PSSI akan memfasilitasi PASI menyelenggarakan perlombaan atletik untuk beberapa nomor perlombaan yakni, sprint 60 meter, 100 meter, 1500 meter dan estafet 4 x 100 meter serta 4 x 400 meter.

"Porlombaan nanti akan dilaksanakan saat turun minum pertandingan ISL. Kan ada jeda 15 menit, jadi kita upayakan memakai waktu 10 menit bersih, agar tidak mengganggu jalannya pertandingan sepakbola," jelasnya.

Sementara itu, Bob Hasan mengungkapkan bahwa kerjasama ini merupakan langkah maju untuk mengembangkan minat pecinta sepakbola yang cukup besar pada cabang olahraga atletik. Dimana cabang olahraga atletik merupakan induk dari semua olahraga. "Ini agar PASI juga maju. Makanya salah satunya cara kita mencoba menggandeng di ajang ISL. Kan dana PASI tidak sebesar dana PSSI," ungkapnya.

Selain itu, Bob Hasan mengatakan ide ini mengadopsi perlombaan atletik di Jamaika yang juga memanfaatkan kompetisi sepakbola. "Di Jamaika itu kayak begini. Makanya kita coba mencontohnya. Dan saya rasa ini baik tidak hanya buat PASI tapi juga PSSI," katanya.

Lapangan Atletik Oentoeng Poedjadi FIK UNESA, Jawa Timur kembali terpilih  menjadi tuan rumah penyelenggaraan kejuaraan daerah Atletik Antar klub Jawa Timur (Jatim Open) 2015. Ajang rutin tahunan yang diselenggarakan Pengurus Propinsi Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Jatim ini akan berlangsung dari tanggal 19 Maret 2015 hingga 21 Maret 2015. Dalam surat resmi yang ditujukan kepada seluruh Pengda-Pengda PASI, Klub-klub atletik dan PPLM se Indonesia, sekretaris umum Pengprop PASI Jatim jongki Sumarhadi menyebutkan bahwa Kejuaraan yang akan mempertandingkan 22 nomor pertandingan putra dan putri ini, merupakan salah satu ajang kualifikasi untuk Pekan Olahraga Nasional XIX 2016. nomor-nomor yang dipertandingkan yaitu sebagai berikut:

  1. 60 M (khusus Jatim),
  2. 100 M,
  3. 200 M,
  4. 400M,
  5. 800M,
  6. 1500M,
  7. 3000M stc,
  8. 5000,
  9. 10,000,
  10. 110 M Gw/100m Gw,
  11. 400 m Gw,
  12. 10000M jalan cepat,
  13. lompat jauh,
  14. lompat jangkit,
  15. lompat tinggi,
  16. lompat galah,
  17. tolak peluru,
  18. lempar lembing
  19. lempar cakram
  20. lontar martil
  21. estafet 4 x 100m
  22. estafet 4 x 400m

Untuk bisa ikut dalam ajang Jatim Open, pendaftaran paling lambat tanggal 9 maret 2015, dan dikirim langsung melalui suirat ke Sekretariat pengprov PASI Jatim di jl Jemur Andayani no 27 Surabaya 60237 atau Fax: (031) 8438405 dan email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

Meski singkat kedatangan Michael Deyhle dan Dieter Kollark terasa sangat bermakna bagi banyak pelatih dan atlet yang beruntung ikut dalam Coaching Clinic dan Taining Camp yang digelar PB PASI. Wawasan dan metode baru latihan diberikan oleh kedua pelatih yang telah menelurkan banyak atlet kelas dunia ini. Michael pun mengapresiasi keinginan besar para pelatih dan atlet untuk belajar.”Motivasi dan semangat mereka (pelatih dan atlet) luar biasa,” ujar Michael.    

Pelatih kelahiran Jerman, 6 September 1951 ini pun banyak memberi masukan bagi perkembangan atletik Indonesia.  Menurutnya, untuk saat ini, Indonesia belum bisa melahirkan atlet kelas dunia. Butuh waktu cukup lama untuk mewujudkan hal itu. Namun, ia percaya dengan potensi penduduk yang sekian banyak dan  dilakukan metode pelatihan dengan baik, Indonesia suatu saat memiliki atlet kelas dunia. stan. Untuk mengetahui lebih jauh, pendapatnya tentang atletik Indonesia  wartawan GATRA mewawancarai Michael Deyhle seusai penutupan Coaching Clinic, Jumat pekan lalu,  berikut petikannya: 

 

Apa yang anda lihat dan pelajari dari Atletik Indonesia?

Motivasi dan kemauan pelatih dan atlet sungguh sangat luar biasa. Begitu pula, Lingkungan dan sarana prasarana latihan sangat mendukung. Hanya saja memang terkait pemahaman pengetahuan atletik, (pelatih dan atlet) Indonesia belum semaju di Eropa. Perlu harus terus ditingkatkan pemahaman terkait atletik.

Apakah itu menjadi kendala, saat anda memberikan pelatihan?

Saya sengaja tidak menyampaikan hal yang terlalu tinggi. Saya memilahnya, dan disesuaikan dengan kebutuhan para pelatih dan atlet Indonesia. Memang (dari pelatihan) ini tidak bisa langsung menjadi juara dunia, tapi menaikan prestasi sedikit demi sedikit, saya yakin bisa. Kami punya banyak data, tapi tak semua bisa kami bagikan karena keterbatasan waktu.

Melihat kondisi atletik Indonesia seperti ini,  apa yang dibutuhkan untuk memperbaikinya?

Pertama, yang perlu dikembangkan yaitu sistemnya dulu dalam banyak hal, misalnya identifikasi bakat atau pembinaan atlet yunior. Indonesia kan punya banyak penduduk, kita harus bisa mendapatkan bakat-bakat muda.  Indonesia misalnya harus punya minimal 100 atlet yunior, karena nanti saat masuk ke senior, jumlahnya makin sedikit. Jadi, kita harus memperbanyak proses pencarian atlet yunior.

Kedua, pada saat (pembinaan) atlet usia remaja, harusnya semua materi diberikan. Jangan dikhususkan dulu. Misalnya, satu atlet remaja bagus di nomor tolak peluru, maka jangan kemudian dia, berlatih tolak peluru saja, tapi semuanya tetap harus diberikan.  Jadi dia merasakan semuanya.

Ketiga, menyangkut sistem pendidikan yang harus diperbaiki. Di Jerman,  ada tiga mata pelajaran olahraga yang sifatnya wajib di pendidikan dasar  yaitu Atletik, senam dan renang.  Itu bagus buat pengembangan anak ke depan.

Keempat, menyangkut pengembangan kualitas pelatih. Pelatih harus selalu dan terus menerus diberikan pelatihan dan pengetahuan baru sehingga ilmunya terus berkembang.

Menyangkut penerapan ilmu teknologi dalam program pelatihan, apakah untuk Indonesia, hal itu  sudah sangat dibutuhkan ? bagaimana dengan pemahaman tersebut, mana yang lebih diutamakan?

 Jawaban atas pertanyaan ini seperti menjawab mana yang lebih dulu antara telur dan ayam.    Tapi, kalau menurut saya, paling bagus diberikan pemahaman dulu kepada pelatih. Di Jerman, pelatih tingkat daerah, tugasnya memberikan pemahaman tingkat dasar kepada para atlet, tidak melebihi hal itu.  Nanti, jika si atlet sudah bagus, barulah Atlet di bawa ke tingkat yang lebih tinggi apakah di provinsi atau di tingkat nasional termasuk diperkenalkan dengan  teknologi dan sebagainya. Ilmu dan Teknologi penting kalau sudah menganalisa di tingkat atas.

 

Bagaimana menurut anda tentang Indonesia?

 

Orang indonesia sangat beda dengan orang Jerman. Orang Jerman sangat individual, sedangkan disini, orang Indonesia sangat ramah, setiap bertemu siapa saja menegur sapa. Kalau menurut saya luar biasa, begitu juga soal lingkungan, di Indonesia sangat luar biasa. Di Jerman, anda tak akan menemukan orang yang menyeberang jalan sembarangan. Tapi di Indonesia, orang bisa menyeberang dimana saja. Tapi meski demikian, tidak ada kecelakaan.

 

 

Dieter Kollark tersenyum simpul. Antara senang dan risih, pria asal Jerman itu  melangkah kikuk menuju kursi depan di ruang Media Centre PB PASI, Stadion Madya Senayan Jakarta.  Jumat siang pekan lalu, bersama rekan senegaranya Michael Deyhle, pelatih atletik Nasional Jerman ini dipakaikan baju batik dan blankon dihadapan puluhan atlet dan pelatih nasional oleh Sekjen Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Tigor M. Tanjung.

Pakaian nasional dan topi khas Jawa itu diberikan PB PASI sebagai tanda terimakasih atas kehadiran kedua pelatih lempar asal Jerman tersebut di Indonesia. Tak seperti rekannya Michael Deyhle yang lebih terbuka dan murah senyum, Dieter yang berasal dari wilayah bekas Jerman Timur, memang lebih pendiam. Selama lima hari, sejak senin hingga jumat pekan lalu, Michael Deyhle dan Dieter Kollark  serta dua atlet Jerman Anna Rueh dan Carolin Paesler, membagikan ilmu atletik khususnya di nomor lempar cakram, lontar martil dan tolak peluru kepada sejumlah pelatih nasional dan daerah serta atlet Pelatnas PB PASI dalam kegiatan Coaching Clinic dan Training Camp PB PASI.

“Jadwal ‘pelatnas’ mereka (Michael dan Dieter) sendiri akan segera dimulai. Jadi, Mereka harus segera kembali ke Jerman,” urai Tigor M. Tanjung.  Meski hanya singkat, menurut pria 53 tahun, yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Asosiasi Atletik Asia ini, atletik Indonesia sangat beruntung bisa mendapatkan ilmu dari dua pelatih nasional Jerman, di tengah-tengah kesibukan mereka mempersiapkan tim Jerman menghadapi Olimpiade 2016. Keduanya merupakan pelatih bertangan dingin yang sudah melahirkan banyak  atlet juara dunia.  Michael Deyhle merupakan pelatih Juara Dunia lontar martil putri 2007 dan pemegang rekor dunia Betty Heidler.

Sedangkan Dieter Kollark, adalah pelatih spesialis tolak peluru dan lempar cakram yang telah melahirkan Juara dunia tolak peluru Astrid Kumbernuss, dan Juara Dunia lempar Cakram Franka Dietzsch. Kedatangan kedua pelatih Jerman itu, lanjut Tigor, merupakan bentuk keberlanjutkan kerjasama PASI dengan Persatuan Atletik Jerman (Deutsche Leichtathletik Verband /DLV) yang sudah terjalin sejak lama. “Selain mengirim pelatih dan atlet kita ke Jerman, kita juga minta DLV untuk mengirimkan pelatih terbaiknya, dan dipenuhi mereka (DLV),” ujar Tigor.  

Kehadiran dua pelatih Jerman di nomor lempar ini, menurut Tigor, terkait target PB PASI untuk kembali melahirkan atlet-atlet nomor lempar. Saat ini, di tingkat remaja dan yunior, Atletik Indonesia memiliki harapan cukup besar pada sejumlah atlet yang memiliki prestasi cukup baik. Diantaranya pemegang rekornas lontar martil remaja asal Riau Deny Yohan Putra, atlet M, Kresno Setyo Nugroho dan pemegang rekornas yunior putri lontar martil Tresna Puspita.

Menurut wakil ketua bidang pembinaan dan Prestasi PB PASI Moh. Nanang Kusuma, dua pelatih Jerman tersebut membawa wawasan baru bagi pelatih dan atlet nasional. Metode latihan yang diterapkannya sangat berbeda dengan yang biasa digunakan para pelatih nasional. Selama pelatihan, baik Michael maupun Dieter mempertunjukan metode latihan lempar yang benar secara detail.”Setiap gerakan dari semua bagian tubuh, menjadi penting untuk bisa menghasilkan hasil yang maksimal,” ujar Nanang.

Menurut ayah tiga anak yang pernah belajar di Jerman selama lebih dari dua tahun ini,  perbedaan mendasar lainnya dalam pelatihan oleh pelatih Jerman yaitu bagaimana pelatih Jerman memanfaatkan perkembangan ilmu dan teknologi untuk meningkatkan kemampuan atletnya. Perkembangan setiap atlet baik fisik maupun teknik dimonitor betul, sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan latihannya. “Ilmu dan Teknologi di Jerman sudah menjadi hal yang biasa digunakan dalam menganalisa latihan, sementara kita belum sepenuhnya menerapkan itu dalam metode latihan,” tambah Anang.   

Hal itu juga diakui atlet yunior nasional Tresna Puspita. Pemegang rekor Nasional yunior lempar cakram ini  tadinya berharap bisa lebih lama lagi dilatih kedua pelatih Jerman tersebut. Ia merasakan banyak perbedaan dalam latihan yang diberikan pelatih Jerman dibanding pelatih nasional. "Mereka lebih banyak mengajarkan teknik dan lebih bervariasi,”ungkap atlet asal Kuningan, Jawa Barat itu.

 

HF

 

 

Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) bekerja sama dengan DLV (Deutsche Leichtathletik Verband) akan mendatangkan Pelatih Nasional Atletik Jerman Michael Deyhle dan Dieter Kollark ke Indonesia awal Januari 2015. Kedua Pelatih akan diminta untuk memberikan pelatihan kepada sejumlah pelatih dan atlet nomor lempar cakram, tolak peluru dan lontar martil dari seluruh Indonesia.

Acara coaching clinic dan training camp tersebut akan berlangsung dari tanggal 5 hingga 9 Januari 2014 di Stadion Madya Senayan Jakarta.  Kedatangan keduanya juga akan ditemani dua atlet Nasional Jerman. “Mengingat bahwa para pelatih ini telah menghasilkan atlet-atlet Jerman kelas dunia, Indonesia beruntung dapat menimba ilmu dari mereka di tengah-tengah kesibukan mereka mempersiapkan tim Jerman menghadapi Olimpiade 2016,” ujar Tigor M Tanjung, Sekjen PB PASI.

Michael Deyhle adalah pelatih lontar martil nasional Jerman yang telah menghasilkan sejumlah atlet kelas dunia seperti juara dunia 2007 dan  pemegang rekor dunia lontar martil 2009 – 2011 Betty Heidler dan  peringkat 4 kejuaraan Dunia Kathrin Klaas. Sementara Dieter Kollark adalah pelatih bertangan dingin yang telah menghasilkan Juara Dunia dan juara Olimpiade 1996  Astrid Kumbernuss.  

Nomor lontar martil Indonesia kini sedang bergairah. Meski di level senior belum ada pemecahan rekor nasional sejak dipecahkan oleh Rose Herlinda  pada SEA Games di vientien, 2009 untuk nomor putri dan Dudung suhendi di nomor putra. Namun di tingkat remaja, Indonesia memiliki harapan cukup besar pada sejumlah atlet remaja dan yunior. Pada Pekan Olahraga Nasional Remaja I di Surabaya, beberapa waktu lalu, atlet asal Riau Deny Yohan Putra berhasil memecahkan rekornas lontar martil sejauh 53,55 M dari rekor sebelumnya yang dipegang Kresno Setyo Nugroho 52,72 M. Sementara di nomor Putri, Indonesia masih punya Tresna Puspita yang masih memegang rekornas lontar martil sejauh 51,62 M yang dibuat tahun 2013 lalu.

 

 

Maria seusai Pengalungan Medali emas Kedua (Foto: Adi Wijaya) 

 

Atlet Nasional asal Bali Maria Natalia Londa kembali menyumbang medali emas untuk kontingen Indonesia pada ajang ASEAN University Games (AUG) 2014 di Palembang, Sumatra Selatan, Rabu (17/12/2014) . Kali Ini, Maria menyumbangkan medali emas dari nomor lompat Jangkit yang merupakan salah satu andalannya. Atletik menyumbang 3 medali emas di hari ketiga lomba atletik tersebut.

Selain Maria, emas lainnya diraih dari nomor 400 meter gawang putra. Andrian menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 52.21 detik. Medali perak milik atlet Vietnam, Cong Lich, dengan waktu 53, 16 detik dan disusul pelari Thailand yang lebih lambat 00,08 detik.

Medali emas ketiga disumbang Eki Febri dari nomor tolak peluru Putri dengan jarak lempar 13, 58 meter. Tempat kedua ditempati atlet Singapura Lee Shin Yan dengan jarak lempar 12,75 meter dan perunggu diperoleh Malaysia dengan jarak lempar 12,52 meter.

Maria Londa seusai dikalungi medali oleh ketua bidang pembinaan dan prestasi PB PASI Paulus Lay (Foto: Adi Wijaya)

Palembang, Indonesia – Di hari pertama penyelenggaraan cabang olahraga Atletik Pekan Olahraga Mahasiswa Se-ASEAN  2014 (Asean University Games XVII) di Palembang, senin (15/12), tim Atletik Indonesia berhasil mendulang 2 emas, 2 perak dan 4 perunggu  dari 10 nomor final yang diperlombakan. 


Kedua medali emas  tersebut diraih sprinter Iswandi dari nomor 100 meter putra  dan peraih medali emas Asian Games Incheon, Maria Natalia Londa dari nomor lompat jauh putri. "Puji Tuhan, saya bisa mempertahankan kembali medali emas," kata Maria Londa.

Di dua ASEAN University Games sebelumnya Maria juga berhasil meraih medali emas nomor lompat jauh. Mahasiswi tingkat akhir IKIP PGRI Bali juga berpeluang medali emas dari nomor lompat jangkit, yang baru akan dipertandingkan pada hari Selasa, 16 Desember 2014. 

 

Menurut ketua bidang pembinaan dan prestasi PB PASI Paulus Lay,  hasil yang diraih Maria memang sudah diprediksi sebelumnya. Kemampuan lawanya dari Vietnam  dan Malaysia masih jauh di bawah Maria. Bahkan, menurut Paulus, di lompatan terakhir, Maria nyaris memecahkan rekornas dengan lompatan sejauh 6,56 M. Tapi, sayang lompatan tersebut didiskualifikasi karena Maria menginjak garis batas lompat. Rekornas lompat jauh sendiri dipegang Maria dengan lompatan sejauh 6,55 Meter. 

 

Dua medali perak tim atletik Indonesia diraih Nurshodiq dari nomor lari putra 10 ribu meter dengan catatan waktu 33 menit 3,76 detik dan Abdul Hafiz untuk nomor lempar lembing putra dengan catatan jarak 63,6 meter. Sedangkan empat medali perunggu didapatkan sprinter putri Serafi Anelis Unani di nomor 100 meter putri, Edi Ariansyah (400 meter putra), Sri Mayasari ( 400 meter putri) dan Fadlin (100 meter putra).

 

Pertandingan di hari pertama pada kejuaraan dua tahunan itu, atlet Sapta lomba Emilia Nova juga berhasil memecahkan rekornas lari gawang yunior 100 meter atas nama Agustin Bawele  dari 14.10 detik yang dibuat pada 6 Juni 2009 menjadi 13.80 detik.

HF

Daftar Perolehan Medali nomor Atletik hari Pertama AUG XVII Palembang

                      emas         perak     perunggu

1. Vietnam             4         2          0

2. Malaysia             2          5          1

3. Indonesia          2          2          4

4. Thailand           2          0          1

5. Laos                0           1         0 

 

 

 

Surabaya, PON Remaja I -  Tim tuan rumah Jawa Timur akhirnya membuktikan keperkasaanya di hari terakhir perlombaan Cabang Olahraga (Cabor) Atletik Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja I  yang digelar di Lapangan Oentoeng Poedjadi FIK Unesa Surabaya, Jawa Timur. Dengan tambahan dua medali emas dari nomor estafet 4 x 100 meter putra dan putri, tuan rumah berhasil mengoleksi delapan medali emas, tujuh perak dan 3 perunggu. Jawa Timur menyisihkan tim Sumatera Barat di peringkat kedua yang terus menempel ketat perlombaan atletik dimulai. Sumbar mendulang 6 emas, 7 perak, dan 4 perunggu. Disusul tim DKI Jakarta 5 emas, 4 perak dan 5 perunggu.

Pada hari terakhir lomba, kembali terjadi pemecahan rekor nasional remaja. Kali ini, atlet Papua Barat Silzer Y Numberi memberi kejutan dengan memecahkan rekor nasional remaja nomor 400 meter  dengan catatan waktu 49.12. Silzer memecahkan rekornas milik atlet NTB Arif Rahman yang sudah bertahan selama 4 tahun yaitu 49,25 detik. Selain Silzer, rekornas 400 meter tersebut juga dilakukan atlet Jawa Timur Ifan Anugrah Setiawan dengan 49,18 detik yang menduduki peringkat kedua.

Sehari sebelumnya atlet Riau Denny Putra Yohan juga memecahkan rekornas Lontar Martil dengan jarak lemparan sejauh 53,55 Meter atau lebih jauh dari rekornas sebelumnya yang dipegang atlet DKI Jakarta Kresno Setyo dengan lemparan 52,72 M. Selain itu, pemecahan rekornas juga dilakukan atlet Jawa Timur Tengku Tegar dari nomor Lompat Tinggi Galah putra dengan lompatan setinggi 4,35 M atau lebih baik dari rekornas sebelumnya yang dipegang Eko wicaksono setinggi 4,20 Meter.  
 
Usai pertandingan, Ketua Bidang Organisasi PB PASI letjen (purn) Zacky Anwar Makarim memberikan apresiasi atas banyaknya pemecahan rekornas di ajang PON Kali ini. Menurut Zacky, pemecahan rekornas yang dilakukan beberapa atlet dari berbagai daerah dan distribusi medali yang hampir merata didapat semua daerah yang ikut serta menunjukan mulai meratanya prestasi atletik daerah, Ini, menurut Zacky,  juga menunjukan bahwa program pembinaan mulai berjalan di daerah. "Tapi, kita belum boleh puas atas hasil ini, Pembinaan ini harus terus ditingkatkan agar kita bis aterus menghasilkan atlet-atlet muda yang bis abersaing di pentas internasional," ujar Zacky.  (HF)         

 

Peringkat daerah Peraih medali Atletik PON Remaja 2014

No

Propinsi

Emas

Perak

Perunggu

1

Jawa Timur

8

7

3

2

Sumbar

6

7

4

3

DKI Jakarta

5

4

5

4

DI Yogjakarta

3

-

3

5

Jawa tengah

3

-

3

6

Jawa Barat

2

2

2

7

Riau

2

2

1

8

Bali

1

3

1

9

NTT

1

2

3

10

Bangka Belitung

1

2

2

11

Aceh

1

2

1

12

NTB

1

2

1

13

Lampung

1

1

2

13

Papua

1

1

-

14

Papua Barat

1

-

1

15

Bengkulu

1

-

-

16

Sumatera Selatan

-

2

2

17

Maluku

-

1

1

18

Sumut

-

1

-

19

Sulawesi Selatan

-

-

1

20

Kalimantan Barat

-

-

1

 

 

 

dari Kiri : Zubair, Priadi, Enny Martodihardjo, Bob Hasan dan Tarmudianto  (Dok PASI : Ardy)

Surabaya, PON Remaja I - Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Bob Hasan memberi penghargaan khusus kepada empat orang pelatih yang dinilai berjasa menghasilkan bibit-bibit muda atlet dari daerah masing-masing. Pemberian penghargaan yang dilakukan di sela-sela pelaksanaan PON Remaja I di Stadion Atletik Unesa, Surabaya ini diberikan kepada pelatih asal Sumatera Barat Priadi Kaliman, Pelatih DKI Jakarta yang juga seorang pelatih Nasional Enny Martodihardjo, Pelatih asal Bima, Nusa Tenggara Barat Zubair dan pelatih asal Jawa Timur Tarmudianto.

Dalam kesempatan itu, Bob Hasan mengatakan para pelatih dan juga atlet adalah aset penting untuk meraih prestasi. “Pelatih dan atlet adalah aset, ini harus dijaga, makanya kita semua harus memberikan perhatian khusus,” ujar Bob Hasan.

Menurut Zubair, penghargaan ini menjadi sesuatu yang sangat mengejutkan. Pria asal Bima, Nusa Tenggara Barat ini sangat mengapresiasi apa yang diberikan PB PASI. Pelatih yang telah menghasilkan banyak atlet nasional seperti Fadlin, Nurul Imaniar, Iswandi dan  M Ridwan ini berharap, penghargaan ini bisa memotivasi pelatih lain untuk terus menghasilkan atlet-atlet baru nasional.

wakil ketua bid BINPRES PB PASI Nanang Kusuma sedang memberikan pelatihan

 

Surabaya, Di sela-sela penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional Remaja I di Surabaya, Jawa Timur,  Panitia pelaksana cabang atletik menyelenggarakan Coaching Clinic bagi para pelatih atletik, di Ruang Java, hotel Graha Residence, Surabaya, kamis (11/12) lalu . Pelatihan yang berlangsung selama hampir 4 jam itu diisi oleh beberapa pemateri yang merupakan para pelatih dan pembina atletik Nasional.

Diantaranya, bapak Ria Lumintuarso dari Regional Development Centre IAAF Jakarta, Enny Martodihardjo, DR Boedi Darma Sidi, Paulus Lay dan wakil ketua bidang pembinaan dan prestasi PB PASI yang baru Nanang Kusuma. Dalam pemaparan di hadapan lebih dari 40 peserta tersebut, Ria mengemukakan tentang pentingnya penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dalam proses pengembangan prestasi atlet.

Implementasi tersebut bisa dilakukan, menurut Ria, dari hal-hal yang sederhana seperti penggunaan head set player yang digunakan atlet saat latihan untuk mengatur  pace latihan hingga penggunaan simulator hall untuk memungkinkan atlet merasakan suasana pertandingan.  “ilmu dan teknologi merupakan performance factor yang penting untuk mencapai prestasi sprint,” ujar Ria.

Sementara itu, Paulus Lay dan Nanang Kusuma mengemukakan mengenai proses perkembangan prestasi atlet yang ada saat ini. Baik dari sisi peningkatan prestasi maupun proses tahapan pembinaan atlet yang dimulai dari usia 7 tahun dengan gerakan dasar, hingga usia 28 tahun merupakan puncak pembinaan prestasi.   

Page 5 of 11
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…