Alvin Tehupeiory saat melompati gawang di jelang finish (Foto: Dok PASI/Rian Alisjahbana)

 

Impian Alvin Tehupeiory untuk berdiri di atas podium akhirnya bisa terwujud juga. Di hari terakhir kejuaraan Atletik Yunior 2014 di Taipei, Taiwan, atlet yunior putri Indonesia asal Maluku ini berhasil mempersembahkan satu medali perunggu dari nomor 400 M gawang putri. “Rasanya senang banget, karena dari kemarin memang ingin berdiri di podium juara,” kata Alvin.

 

Gadis kelahiran Ambon, 5 April 1995 yang berlari di lintasan 3 ini, sempat bersaing dengan pelari Jepang Akiko Ito di 50 M terakhir. Namun setelah melompati gawang terakhir, Alvin tertinggal dari Akiko dan justru bisa disusul oleh pelari asal Sri Lanka Kawashalya Madushani yang akhirnya menduduki posisi kedua.

 

Akiko menjadi pelari tercepat dengan waktu 58,80 detik. Sementara Kawshalya dan Alvin mencatat waktu 62,31 dan 62,39 detik. Alvin mengakui saat di 50 meter terakhir, ia tak mampu menambah kecepatannya lagi.“Sudah dipush tapi,,,gak bisa lagi (lari kencang),” tambah Alvin.   

 

Dengan tambahan medali dari Alvin, maka tim atletik Indonesia berhasil mengoleksi dua medali perunggu, setelah sebelumnya atlet Nadia Anggraini mengemasnya dari nomor lompat tinggi di hari kedua lomba. Dengan perolehan tersebut, Indonesia menduduki posisi keduapuluh dari 35 negara peserta. Posisi pertama klasemen kejuaraan atletik yunior Asia 2014 diraih tim China dengan 12 medali emas, 10 Perak dan 2 Perunggu. Urutan kedua dan ketiga diduduki tim Jepang dan Qatar.

 

Meski demikian, Tim atletik Indonesia merasa cukup bersyukur, karena 4 rekor nasional yunior berhasil dipecahkan. “Hasil ini menunjukan anak-anak (atlet) mulai mengalami peningkatan (prestasi),” ujar Boedi Darma, Manajer tim Indonesia yang juga ketua bidang Pembinaan dan Prestasi PB PASI. 

Selain Nadia Anggraini dari nomor lompat tinggi, rekornas juga berhasil dipecahkan oleh atlet Tresna Puspita di nomor lontar martil dengan lemparan sejauh 45,97 M (rekornas lama 45,86M) , Abdul Hafis di nomor lempar lembing dengan lemparan sejauh 62,30 M (Rekornas lama 62,29M) dan tim estafet putri Indonesia yang terdiri atas Irene Alisjahbana, Eka Cahaya Ningrum, Emilia Nova dan Alvin Tehupeoiry di nomor estafet 4 x 100 M dengan waktu 46,80 detik (Rekornas lama 46,99 detik) .

 

Daftar Peringkat Kejuaraan Atletik Yunior Asia 2014

            Negara            emas   perak   perunggu

  1. China  12        10        2
  2. Jepang 11        5          5
  3. Qatar   6          2          1
  4. Taiwan 4         3          8
  5. India    2          5          5

.

.

.

20. Indonesia -      -           2

 

Tresna saat memecahkan rekornas (foto: Dok PASI/Rian Alisjahbana)

 

Pada hari ketiga keikutsertaan tim atletik yunior Indonesia di ajang “2014 Asian Junior Championships’ di Taiwan, diwarnai  dengan satu lagi pemecahan rekor nasional. Atlet lontar martil putri, Tresna Puspita berhasil memecahkan rekornas yunior dengan lontaran sejauh 45,97 M atau lebih baik dari rekor lama sejauh 45,86 M. “Alhamdulillah, saya lebih fokus sehingga bisa melempar cukup jauh,” ujar Tresna yang ditemui seusai lomba.

Meski tak berhasil meraih medali, Tresna mengaku cukup senang karena bisa memecahkan rekornas. Ia Berharap, dapat melakukan lontaran lebih baik lagi di masa depan. Di Nomor lontar martil putri dimenangkan atlet tuan rumah Hsiu Wen Hung, dengan lontaran sejauh 56,81 M. Sedangkan posisi kedua dan ketiga diraih atlet asal Thailand Panwat Gimsrang (54,66 M) dan atlet Kazakhstan Diana Nussupbekova (53,81M).

Satu lagi rekornas terpecahkan di nomor estafet 4x100 putri.  Rekornas yang sudah bertahan selama  20 tahun dipecahkan atlet  Alvin Tehupeiory , Irene Alisjahbana , Eka Cahaya ,dan  Emilia Nova . Rekor lama 46.99 detik menjadi  46.80 detik. Meski begitu, tim estafet putri Indonesia gagal meraih medali, karena menduduki urutan 5 secara keseluruhan.

Kegagalan meraih medali juga dialami atlet yunior Indonesia lainnya yang bertanding hari ini. Pelari gawang putri Emilia Nova hanya bisa masuk finish di urutan keempat di nomor 100 meter gawang dengan catatan waktu 14,27 detik.Begitu pula, atlet lompat tinggi putra, Guntur Ibrahim hanya berhasil menduduki peringkat ketujuh dari 10 atlet, setelah melompat setinggi 2,00 meter. Juara pertama diraih atlet China Jia Xu Bai yang berhasil melompat setinggi 2.10 Meter. “Untuk melompat 2,03 agak berat, gak tahu kenapa, kena (palang) terus,” ujar Guntur.

Pertandingan di hari ketiga diwarnai dengan dua insiden mengharukan yang dialami dua atlet Indonesia. Sprinter Indonesia Fuad Ramadhan yang berlari di nomor 200 Meter, terpaksa menempuh sebagian lintasan lomba sambil berjalan tertatih-tatih akibat mengalami cedera pinggang. Ia terpaksa digotong ke rumah sakit setelah memasuki garis finish. Hal yang hampir sama terjadi pada sprinter Arasy Akbar Witarsa yang sempat terjatuh akibat tersangkut gawang di 20 meter pertama nomor 110 gawang. Ia memaksakan diri untuk berjalan hingga garis finish meski harus berjalan tertatih tatih dengan luka gores di tangan dan kakinya.    

 

Nadia Anggraini saat Memecahkan Rekornas Lompat Tinggi Yunior

 

Hari kedua ‘16th Asian Junior Championships’ jadi hari bersejarah bagi atlet Pelatnas Nadia Anggraini. Pelompat Tinggi putri Asal DKI Jakarta ini berhasil memecahkan rekornas yunior lompat tinggi atas namanya sendiri. Nadia yang menggunakan nomor dada 147 berhasil mencatat lompatan setinggi 1,72 meter. Lompatannya ini lebih baik, 0,01 meter dari Rekornas sebelumnya, 1,71 Meter.  “Senang banget bisa pecahkan rekornas,” ujar Nadia.

 

Kebahagiaan gadis manis kelahiran 19 Juli 1995 ini bertambah setelah tahu bahwa dirinya juga berhasil meraih medali perunggu. Nadia menyisihkan pelompat asal Malaysia Sean Yi Yap, yang sama-sama berhasil melompat setinggi 1,72 meter.  Namun, Nadia lebih baik dalam kesempatan lompatan, karena mencapai 1,72 dalam satu kesempatan lompat. Sementara Sean berhasil melewati tiang lompat di kesempatan ketiga.

 

Medali emas Lompat Tinggi diraih pelompat China Lin Wang dengan lompatan 1,88 Meter. Sementara medali perak diraih pelompat tuan rumah Taiwan Ching Ching Lee dengan 1,75M. SekJen PB PASI Tigor M Tanjung yang ikut hadir menyaksikan pertandingan di Stadion Atletik Municipal, Taipei, Taiwan, merasa bersyukur atas hasil yang diraih Nadia. “Nadia membawa angin segar di dunia atletik Indonesia karena sudah lama nomor lompat tinggi putri mati suri,” ujar Tigor Tanjung, yang juga menjabat sebagai Vice Presiden Asosiasi Atletik Asia.

 

Nadia memang cukup fenomenal sejak berhasil memecahkan rekornas yunior lompat tinggi pertama di kejurnas yunior dan remaja 2013 di stadion Madya Senayan, Jakarta. Saat itu, sulung dari dua bersaudara putri Endang Munawar yang merupakan seorang security sebuah perusahaan dan Ropida, ini memecahkan rekornas yang telah bertahan selama 24 tahun milik atlet Nini Patriona.

 

Medali perunggu yang disumbangkan Nadia, menjadi medali pertama tim atletik Indonesia di ajang ayang diikuti  lebih dari 650 atlet dari 35 Negara se-Asia ini. Pada pertandingan lain, atlet tolak peluru putra Indonesia Narta Hanny Sugara gagal meraih medali. Pemegang rekornas Yunior lempar cakram ini, hanya menduduki posisi kedelapan dari 9 atlet yang turun ke lapangan. Ia berhasil menolak peluru sejauh 14,83 meter. Juara pertama dan kedua diraih atlet Iran Shahin Mehrdelan dan Shahin Jafari dengan tolakan sejauh 18,85 dan 18,64 M. Sementara peraih perunggu Atlet asal India Shakti Solanki (17,09m) .

 

Kegagalan Narta mendulang medali juga diikuti atlet Indonesia lainnya asal Sumatera Barat M Hafis. Atlet kelahiran 2 Januari 1995 yang turun di nomor 1500 meter putra masuk garis finish ketujuh dari 10 atlet. Hafis mencatat waktu 4;03,98 .

 

Harapan tambahan medali masih terbuka luang dari beberapa nomor yang baru akan memasuki babak final, hari Sabtu dan Minggu besok yaitu dari nomor gawang 100 meter putri dan 110 meter putra, serta nomor lempar cakram, dan estafet 4 x 100.    

 

Taipei, 12 Juni 2014.

Setelah berjuang mati-matian di babak Kualifikasi nomor 100 meter putri Kejuaraan Yunior Asia 2014, sprinter putri Indonesia Irene Alisjahbana terpaksa harus mengakui keunggulan lawan-lawannya di babak semifinal, Kamis Sore waktu setempat, (12/6). “Sejak start, mereka (lawan-lawannya) sudah melesat duluan, saya sempat mengejar di paruh kedua lintasan, tapi gak bisa terkejar lagi,” ujar Irene. 

 

Atlet asal DKI Jakarta ini hanya bisa masuk finish di urutan ketujuh dari delapan pelari. Ia mencatatkan waktu 12,33 detik. Catatan waktunya ini, jauh di bawah personal best time nya, yang pernah diukir di ajang kejurnas yunior dan remaja yaitu 12,09 detik. Urutan pertama diduduki pelari China Qi-Qi Yuan dengan catatan waktu 11,80 detik dan otomatis mengantarkanya masuk final, bersama dua pelari urutan teratas lainnya yaitu pelari Singapura Shanti V Pereira (11,95) dan pelari Kazakhstan Rima Kashafutdinova (11,99). Pertandingan final akan berlangsung besok,(13/6).

 

Sementara itu Kompatriot Irene, pelari asal Jawa Timur Eka Cahya Ningrum yang juga turun di nomor 100 meter putri, telah lebih dulu gagal di babak kualifikasi. Kegagalan di nomor 100 Meter putri ini, tak menyurutkan semangat Irene untuk memberikan yang terbaik bagi tim atletik Indonesia. Irene  bertekad akan tetap berjuang di nomor 200 meter dan estafet 4 x 100 meter, Jumat (14/6) mendatang.

 

Selain Irene dan Eka Cahaya, kegagalan juga dialami sprinter putra asal Sulawesi tenggara La Ode Sadam Rumra di nomor 400 M putra. La Ode hanya masuk finish di urutan kelima pada putaran kualifikasi ketiga dengan waktu 49,26 detik. Urutan pertama dan kedua diraih atlet Arab Saudi Mazen Alyasen (47,71) dan atlet Thailand Jaturong Chimruang (48,65)

 

Kejuaraan yang berlangsung di Stadion Municipal,Taipei ini dibuka secara resmi Rabu Sore (11/6) oleh Presiden Asosiasi Atletik Asia Jenderal Dahlan Al-Hamad. Kejuaraan yang diikuti lebih dari 650 atlet dari 35 Negara se-Asia ini akan berlangsung dari tanggal 12 Juni hingga 15 juni 2014. 

 

 

 Press Releases

Taipei, 12 Juni 2014.

Day#1.

 

Berbekal latihan keras dan semangat pantang menyerah, Pagi ini, dua sprinter putri Indonesia akan berlaga pada putaran qualifikasi nomor 100 Meter kejuraaan “16th Asian Junior Athletics Championships” di Taipei, Taiwan. Atlet asal DKI Jakarta Irene Alisjahbana dan atlet Jawa Timur  Eka Cahaya Ninggrum akan bertanding di dua heat yang berbeda. Keduanya menghadapi persaingan cukup ketat dengan atlet-atlet yunior terbaik dari Jepang, China dan India serta beberapa negara Asia lainnya.

 

“Kalau lihat Personal best Time mereka masing-masing, kesempatan untuk masuk final sangat terbuka,” ujar Kikin Ruhidin, pelatih PB PASI yang ikut mendampingi mereka. Di Heat pertama, Irene bakal bersaing dengan atlet India Dutee Chand dan Atlet Jepang Sayako Matsumoto yang memiliki personal best time lebih baik. Dutee Chand pernah mencatat waktu terbaik 11.63 detik. Sementara Sayako 11,82 detik. Irene sendiri memiliki Personal best time di 12.22 detik.

 Irene ketika ditanya tentang peluangnya, mengatakan yakin ia bisa lolos ke final. Gadis kelahiran 4 November 1995 ini pun berharap, bisa meraih medali dalam kejuaraan kali ini.

Kejuaraan yang berlangsung di Stadion Municipal, Taipei ini dibuka secara resmi Rabu Sore (11/6) oleh Presiden Asosiasi Atletik Asia Jenderal Dahlan Al-Hamad. Kejuaraan yang diikuti lebih dari 650 atlet dari 35 Negara se-Asia ini akan berlangsung dari tanggal 12 Juni hingga 15 juni 2014. Dalam Sambutannya, Jenderal  Dahlan AL HAMAD, mengucapkan selamat kepada tuan rumah Taiwan , yang telah menjadi tuan rumah pertama kali kejuaraan Atletik tingkat Asia. “Ini merupakan kejuaraan yang penting bagi para atlet muda Asia dalam perjalanannya menjadi Juara di masa depan, dan mereka menjadi contoh bagi atlet-atlet muda lainnya,” ujar Jenderal Dahlan ALhamad  

 

Indonesia sendiri mengirim 13 Atlet yunior terbaiknya dalam kejuaraan kali ini. Mereka merupakan atlet atlet muda penghuni pemusatan latihan nasional jangka panjang PB PASI dan hasil dari kejurnas yunior dan remaja 2014 yang berlangsung, medio Mei 2014 lalu di stadion Rawamangun, Jakarta.

 

Menurut Sekjen PB PASI Tigor Tanjung, keberangkatan para atlet ke Taipei, Taiwan, merupakan bagian dari upaya terus menerus PB PASI untuk meningkatkan prestasi para atlet muda. Mereka sengaja dihadapkan dengan iklim kompetisi di tingkat internasional sehingga terbiasa ketika terjun dalam even multicabang seperti Asian games atau Olimpiade di level Senior nantinya. Dalam even kali ini, para atlet, menurut Tigor, tidak dibebani target khusus untuk menjadi juara atau meraih medali. “Tapi, kita (PB PASI) meminta agar para atlet bisa menunjukan peningkatan dan segera mengejar prestasi tingkat Asia,” ujar Tigor,

 

 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi  :

Sekjen PB PASI Tigor Tanjung          HP : 0811133076

 

Daftar Atlet dan Nomor lomba yang akan diikuti

No

Nama

Nomor Lomba

Asal daerah

1

Fuad Ramadhan

200m, 4x100 m

Aceh

2

La Ode Sadam Rumra

400m, 4x100 m

Sulawesi Tenggara

3

M Hafis

1500 m

Sumbar

4

Arasy Akbar Witarsa

110 m gawang, 4 x 100 m

Jawa barat

5

Guntur Ibrahim

Lompat Tinggi

Jawa Barat

6

Narta Hanny Sugara

Tolak peluru, lempar cakram

Jawa Timur

7

Abd Hafiz

Lempar lembing

Sumut

8

Irene Alisjahbana

100 m, 200m, 4x100 m

DKI Jakarta

9

Eka Cahaya Ningrum

100 m, 200m, 4x100 m

Jawa Timur

10.

Emilia Nova

100 m gawang, 4 x 100 m

DKI Jakarta

11

Alvin Tehupeiory

400 m gawang , 4 x100m

Maluku

12.

Tresna Puspita Gusti Ayu

Lontar Martil, Lempar cakram

Jawa Barat

13.

Nadia Anggraini

Lompat Tinggi

DKI Jakarta

 

 

Pelari nasional Agus Prayogo berhasil menjadi juara kategori elite nasional Putra dalam even   Jakarta International 10K 2014. Ia masuk finish dengan catatan waktu 31 menit 8 detik. Dia mengungguli dua pelari nasional lainnya M. Ridwan dan Jauhari Johan.

Menurut Agus, ajang ini dijadikannya sebagai sebagai latihan sebelum tampil di SEA Games 2015.
"Ajang ini menjadi sebuah motivasi dan batu loncatan agar lebih baik di SEA Games 2015. Ini memang bukan bagian target kami. Tapi, ini bagian dari latihan menuju SEA Games 2015," ucap Agus.

Di kategori elite putri nasional, Rini Budiarti menjadi yang terbaik dengan catatan waktu 35 menit 1 detik. Posisi kedua ditempati Yulianingsih, sedangkan Mei Paulo menempati posisi ketiga."Perasaan saya sangat senang karena saat ini di program ada tes 10K dan diminta waktu sekian yang ternyata sesuai dengan target yang diminta," tutur Rini.

Silas Kipruto yang tahun lalu memenangi kategori elite putra internasional berhasil mempertahankan gelarnya. Pelari Kenya itu menyentuh garis finis dalam waktu 28 menit 52 detik.
Kategori elite putri internasional juga jadi milik pelari Kenya. Esther Chemtai Ndema menjadi yang terbaik dengan catatan waktu 32 menit 28 detik.

 

Hasil Jakarta Internasional 10K:

Elite putra internasional:
1. Silas Kipruto, Kenya (28 menit 52 detik)
2. Titus Kwemoi Masai, Kenya (29 menit 1 detik)
3. Charles Wachramaina, Kenya (29 menit 12 detik)

Elite putri internasional:
1. Esther Chemtai Ndema, Kenya (32 menit 28 detik)
2. Sharon Jemutai Cherop, Kenya (32 menit 41 detik)
3. Violah Jepchumba, Kenya (32 menit 41 detik)

Putra Nasional:
1. Agus Prayogo (31 menit 8 detik)
2. M. Ridwan (31 menit 53 detik)
3. Jauhari Johan (32 menit 10 detik)

Putri Nasional:
1. Rini Budiarti (35 menit 1 detik)
2. Yulianingsih (37 menit 14 detik)
3. Meri Pauo (37 menit 44 detik)

T

Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) kembali mengirim atlet-atletnya untuk berlaga di kejuaraan Internasional. Selasa, 10 Juni 2014 mendatang, rencananya rombongan atletik yang terdiri dari 8 atlet putra, 6 atlet putri dan 9 official tim akan berangkat ke kejuaraan “16th Asian Junior Athletics Championships di Taipei, Taiwan”.

 

Dalam kejuaraan yang akan berlangsung di Stadion Municipal, Taipei, tanggal 12 hingga 15 Juni 2014 tersebut, para atlet Indonesia bakal bersaing  dengan 464 atlet lainnya dari  tiga puluh empat negara se-Asia. Keempatbelas atlet yang berasal dari berbagai daerah tersebut merupakan atlet-atlet muda penghuni pemusatan latihan nasional jangka panjang PB PASI dan hasil dari kejurnas yunior dan remaja 2014 yang berlangsung, medio Mei 2014 lalu di stadion Rawamangun, Jakarta.

 

Menurut Sekjen PB PASI Tigor Tanjung, keberangkatan para atlet ke Taipei, Taiwan, merupakan bagian dari upaya terus menerus PB PASI untuk meningkatkan prestasi para atlet muda. Mereka sengaja dihadapkan dengan iklim kompetisi di tingkat internasional sehingga terbiasa ketika terjun dalam even multicabang seperti Asian games atau Olimpiade. Dalam even kali ini, para atlet, menurut Tigor, tidak dibebani target khusus untuk menjadi juara atau meraih medali. “Tapi, kita (PB PASI) meminta agar para atlet bisa menunjukan peningkatan dan segera mengejar prestasi tingkat Asia,” ujar Tigor,

 

Sejumlah atlet muda nasional yang ikut diantaranya pelempar cakram Tresna Puspita Gusti Ayu dan  sprinter Sudirman Hadi. Selain keduanya, ada pula pemegang rekornas lempar cakram yunior Narta Hanny Sugara dan peraih emas Kejurnas yuniordan remaja 2014, Irine Alisjahbana.

 

 

 

CK Valson (duduk kedua dari kanan) diapit Sekjen PB PASI Tigor Tanjung dan ibu Ria (RDC Jakarta)

 

Untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan lomba dan kejuaraan atletik di Indonesia, Regional Development Centre IAAF di Jakarta mengadakan seminar  Manajemen Kompetisi,  2 hingga 6 juni 2014, di Stadion madya Senayan Jakarta. Selain diikuti PB PASI dan beberapa penyelenggara kompetisi Atletik, hadir pula wakil dari beberapa daerah.

Seminar ini menghadirkan langsung technical official IAAF, CK Valson. Pria asal Mahe, India ini berpengalaman puluhan tahun sebagai pelaksana kejuaraan atletik yang diselenggarakan IAAF. Ia juga penerima penghargaan  ‘Pin Veteran’ IAAF atas dedikasi dan komitmennya pada atletik.  

Selain seminar kompetisi manajemen yang diselenggarakan RDC, stadion Madya juga bakal menjadi tuan rumah pelaksanaan penataran level I IAAF. Penataran yang akan dilangsungkan selama sepuluh hari sejak 18 hingga 27 Juni 2014 itu dibuka bagi pelatih muda dari daerah yang hendak meningkatkan pengetahuannya dan keterampilannya. PB PASI selaku penyelenggara penataran, hanya memberikan kesempatan kepada 24 pelatih yang mendapat rekomendasi dari pengprov PASI masing-masing untuk ikut dalam penataran tersebut. Pendaftaran penataran dibuka hingga tanggal 12 Juni 2014.

Menurut Panitia Penataran, Sri Purwidyati, para pelatih yang berminat harus memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan yaitu berusia 18 tahun hingga 40 tahun, aktif membina atlet, minimal lulusan SMU/sederajat, dan membawa surat tugas atau rekomendasi dari Pengprov PASI daerah masing-masing. Para peserta, menurut Sri, akan diinapkan di stadion madya selama penyelenggaraan penataran. Untuk keterangan lebih lanjut, bisa ditanyakan kepada Panitia di nomor telepon (021) 5731681.

 


Bak magnet, pesona Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo langsung mengundang keriuhan ratusan pelajar dan mahasiswa yang ada di stadion Atletik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rawamangun, Jakarta Timur, sabtu pekan lalu. Mereka langsung berebut untuk bersalaman dan berfoto ria dengan calon presiden yang akrab disapa Jokowi itu. Kejuaraan Nasional Atletik Yunior dan Remaja 2014 (Kejurnas) yang sedang berlangsungpun terpaksa dihentikan beberapa saat. “Hidup Pak Jokowi, Hidup Pak Jokowi,” demikian teriakan yang muncul dari tribun penonton.       
 
Jokowi hadir di ajang Kejurnas yang diselenggarakan Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI). Dalam kesempatan yang singkat tersebut, Jokowi mengalungkan medali emas kepada atlet nasional asal DKI Jakarta Irene Alisjahbana yang berhasil menjadi juara di nomor 100 dan 200 meter yunior putri. “Selamat ya, terus berprestasi,” kata Jokowi, singkat.  

Selain Jokowi, Kejurnas juga dihadiri Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar serta wakil dari beberapa perusahaan nasional seperti Dirut bank Mutiara Sukoriyanto Saputro, dan Direksi PT Freeport Indonesia. Dalam kesempatan tersebut Jokowi juga sempat berfoto dengan para atlet dan official peserta kejurnas 2014 dari berbagai daerah. "Ini kesempatan langka, bisa foto bareng calon presiden," ujar salah satu atlet daerah yang ikut kejurnas.        

Kejurnas yang berlangsung sejak rabu hingga sabtu pekan lalu ini diikuti tak kurang dari 825 peserta dari 31 Propinsi. Mereka turun di 72 nomor perlombaan baik di nomor remaja maupun senior Putra Putri. Hingga akhir perlombaan, kontingen Jawa Barat akhirnya keluar sebagai juara umum Kejurnas 2014. Jawa Barat yang diperkuat sejumlah atlet pelatnas seperti Tresna Puspita Ayu dan Arasy Akbar Witarsa  berhasil  mengoleksi 18 medali emas, 11 perak dan 14 perunggu.

Tresna menyumbang dua medali emas dari dua nomor spesialisasinya, yaitu lempar cakram dan lontar martil. Sedangkan, Arasy Akbar menyumbang medali emas dari nomor 110 meter gawang yunior putra. Jawa Barat mengungguli tuan rumah DKI Jakarta yang berada di peringkat kedua dengan perolehan 15 emas, 8 perak dan 5 perunggu dan Jawa TImur di peringkat ketiga dengan perolehan 9 medali emas , 13 perak dan 7 perunggu.

Sartono, pelatih yang mendampingi kontingen Jawa Barat tak dapat menyembunyikan kebahagiannya saat mengetahui kontingennya berhasil menjadi juara umum. Ia mengatakan, bahwa prestasi ini melebih target yang ditetapkan. “Target kami sebenarnya 14 emas. Tapi, Alhamdullilah sekarang kita memperoleh 18 emas, 11 perak, 14 perunggu. Jauh melebihi target,” katanya saat ditemui di GOR Rawamangun .
Dengan hasil ini, Jawa Barat berhasil menggusur dominasi  Jawa Timur yang beberapa tahun terakhir, selalu menjadi juara umum. Pada Kejurnas atletik Yunior dan Remaja 2013, Jawa Timur menjadi juara umum dengan 14 emas, 11 perak dan 11 perunggu. Menurunya prestasi Jawa Timur, tertolong oleh keberhasilan salah satu atletnya memecahkan rekor nasional.  

Adalah Narta Hani Sugara yang berhasil memecahkan rekornas lempar cakram. Atlet bertubuh tinggi besar ini memecahkan rekornas lempar cakram yunior putra dengan mampu melempar sejauh 47,89 meter. Rekornas sebelumnya dipegang Taufik Nurahman dengan lemparan sejauh 44,76 M. “Alhamdulillah, bisa pecahin rekor,” kata Narta.

Selain Narta, pemecahan rekornas juga dilakukan oleh atlet Sumatera Barat Yulianti Utari dan atlet Bangka Belitung M Ardianto serta atlet Gorontalo Firman R Fasi. Yulianti dan M Ardianto memecahkan rekronas di nomor lari 3000 Meter remaja Putri-Putra.  Dengan catatan waktu 10;21.99, Yulianti memecahkan rekornas sebelumnya yang dipegang atlet NTT Apriana Paijo (10:30.70). Sedangkan Ardianto mencatat waktu  9;08.4 detik memecahkan rekornas atas nama atlet Jawa Tengah Beny Santoso (9:09.88)

Sementara Atlet Gorontalo Firman R Fasi berhasil memecahkan rekornas Remaja Putra 2000 M St chase. Firman mencatat waktu 6;32.06 menit atau jauh lebih baik ketimbang rekornas sebelumnya yang dipegang Imam Kristiawan dengan waktu 6;42.79.

Atlet Pelatnas PB PASI Tunjukan Peningkatan

Selain pemecahan rekornas, sejumlah atlet yang selama ini berada di pemusatan latihan nasional juga berhasil mencatat prestasi . Selain Irene Alisjahbana yang berhasil menyabet dua medali emas dan satu perak sekaligus lewat nomor 100 dan 200 meter yunior putri serta estafet yunior, ATlet Tresna Puspita juga berhasil mendulang dua medali emas. “Perasaannya sangat senang karena bisa mempertahankan juara. Tahun lalu juga juara. Bahagia banget,” kata Irene Alisjahbana kepada GATRA.

Sekjen PB PASI Tigor M Tanjung yang ditemui saat tengah asik menyaksikan lomba dari atas tribun stadion mengatakan, ajang Kejurnas ini bisa dijadikan tolok ukur bagi PB PASI maupun Pengurus daerah PASI untuk mengetahui kesiapan atlet-atlet atletik baik dari daerah maupun yang dibina PB PASI lewat Pelatnas jangka Panjang PB PASI dalam menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja yang akan berlangsung pertama kali di Surabaya, Desember 2014 mendatang.

Selain itu, Kejurnas kali ini, menurut Tigor, juga menjadi ajang bagi para pencari bakat PB PASI untuk merekrut atlet-atlet muda potensial untuk dimasukan dalam Program Pelatnas PB PASI di Jakarta. Saat ini, Tigor menambahkan, PB PASI mengalami persoalan regenerasi atlet dengan terjadinya gap yang cukup besar antara prestasi atlet remaja, yunior dan senior. Banyak atlet yang bertransformasi ke tingkat yang lebih tinggi, justru malah ‘menghilang’.

“Sebenarnya kalau mau cari bibit atlet itu lebih tepatnya di daerah dengan mengadakan ajang-ajang di daerah, dan kejurnas ini konsepnya adalah event puncak prestasi. Namun, karena tidak semua daerah mempunyai kejuaraan daerah yang reguler maka tidak jarang kita ketemu bibitnya di kejurnas seperti ini,” ujar Tigor.

Pria yang puluhan tahun ikut membina Atletik bersama ketua Umum PB PASI Bob Hasan ini  juga menambahkan, usai kejurnas, bagian pembinaan PB PASI akan mengevaluasi hasil kejurnas dan memilih atlet-atlet yang bisa dimasukan dalam program Pelatnas.

Program pelatnas Jangka panjang PB PASI  merupakan salah satu program yang dilaksanakan PB PASI dengan mandiri. Beberapa atlet yang berhasil menjadi juara di ajang nasional dan internasional merasakan betapa besar pengaruh pelatnas bagi mereka. Salah satunya Ken Ayuthaya Purnama yang baru saja meraih medali perak di ajang SEA Youth Athletics Championshis di Nay Pyi Taw, Myanmar, akhir April 2014 lalu. .

Menurut gadis manis berambut panjang ini, ia merasakan kemajuan yang sangat pesat justru  setelah masuk di Pelatnas. "Program-program (latihan) yang diberikan sangat bagus,” ujar Ken Ayu. Tak heran jika, atlet yang saat ini sedang mengikuti kualifikasi olimpiade remaja di Bangkok ini,  punya harapan dan keyakinan besar bahwa atlet atletik binaan Pelatnas PB PASI ke depan akan terus berprestasi di pentas-pentas internasional dan mampu memjadi atlet kelas dunia. "DI Pelatnas, kita termotivasi, untuk terus berprestasi, hari demi hari,' ujar Ken Ayu

Pelatih atletik PB PASI Kikin Ruhudin mengamini pernyataan Ken Ayu.  Menurutnya, kondisi atletik Indonesia saat ini sedang menunjukan grafik peningkatan. Ia mengambil sampel prestasi atletik SEA Games dimana, setelah sempat anjlok dengan hanya meraih satu medali emas pada ajang SEA Games di manila, langsung bangkit dan berhasil mendulang 13 medali emas di SEA Games dan membawa kontingen Indonesia menjadi juara SeA Games. Bahkan, pada SEA Gmaes berikutnya di Myanmar, tim atletik Indonesia meski tak menyamai perolehan medali di Palembang, masih mampu memenuhi target dari pemerintah untuk meraih   6 medali emas di SEA Games Myanmar. “Dulu bagus, terus jelek dan sekarang bagus lagi.,” ujarnya.

Menurut Kikin, ajang Kejurnas, merupakan ajang yang tepat untuk mencari bibit atlet yang baru. "Karena pemusatan seluruh atlet dari seluruh Indonesia bertanding di sini dan tidak perlu lagi mencari di daerah-daerah. Ini lebih efektif karena yang dikirim di sini pasti yang terbaik, tidak mungkin yang jelek,” yakin Kikin.

Meski begitu, program pencarian atlet ke daerah, menurut Kikin, tetap dilakukan. namun, yang dicari adalah atlet-atlet yang punya potensi sehingga bis adididik dari nol untuk menjadi atlet hebat di masa depan. "Mereka latihan dan dibentuk dari nol," ujar Kikin.

Menurutnya, sudah banyak atlet yang hasil pencarian di daerah dan kini berhasil menjadi atlet nasional dna berprestasi. Diantaranya, Ken Ayu dan Arasy,” kata pria yang pensiun sebagai atlet pada tahun 2004 usai PON di Palembang ini.

Kikin berharap dengan adanya Kejurnas ini, daerah-daerah bisa menyeleksi atlet-atlet terbaik mereka dan terus meningkatkan kemampuan atlet mereka agar bisa berprestasi mengharumkan nama daerah dan tentunya jika bisa mewakili Indonesia di tingkat internasional, dan bisa mengharumkan nama negara nantinya. “Kejurnas seperti ini ibaratnya “umpan” untuk atlet-atlet di daerah agar bisa terpacu. Jangan hanya berpikiran pada Kejurnas ini saja namun harus berpikiran jauh ke depan khususnya di ajang Olimpiade,” ujarnya.

 

Atlet-atlet Jawa Barat tampaknya tak ingin disalip propoinsi lain dalam perolehan Medali. Sejak Kejuaraan Nasional Atletik Yunior dan Remaja 2014 berlangsung, atlet-atlet tatar Pasundan terus mendominasi. hingga hari ketiga penyelenggaran kejurnas, Propinsi Jawa Barat masih memimpin perolehan medali. Jawa barat mengoleksi 16 medali emas, 10 perak dan 9 perunggu. Di Urutan kedua ditempati tuan rumah DKI Jakarta yang meraih 11 medali emas, 8 perak dan 4 Perunggu. Sementara di urutan ketiga ditempati Jawa timur, yang di hari jumat (16/5)  berusaha mengejar ketinggalanya di awal-awal kejurnas dan berhasil menyalip Bangka Belitung. Jawa Timur mengoleksi 7 medali emas, 7 Perak an 3 Perunggu. Bangka belitung di posisi keempat dengan 6 emas, 8 perak dan 5 perunggu.

 

Page 7 of 11
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…